Veltica MasterClass

5 Akibat Kurangnya Literasi Keuangan untuk Karier dan Keuanganmu

Suami dan istri memikirkan masalah finansial dirumahnya

Di usia 20-an hingga 40-an, kita sering dihadapkan pada berbagai pilihan keuangan. Mulai dari mengelola penghasilan pertama, merencanakan tabungan, hingga investasi untuk masa depan. Namun, yang sering terjadi adalah banyak dari kita yang merasa kesulitan mengelola keuangan karena kurangnya literasi finansial.

Padahal, ini adalah keterampilan penting yang bisa membantu kamu membuat keputusan yang lebih baik dan menghindari masalah finansial di masa depan. Karena itu, Veltica Academy telah membuat artikel yang membahas 5 akibat serius yang bisa terjadi jika kita tidak cukup memahami literasi keuangan, yuk disimak.

1. Terjebak Utang yang Menumpuk

Infografik mengenai siklus penumpukan utang

Salah satu dampak terbesar dari kurangnya literasi keuangan adalah terjebak dalam utang. Di awal karier, banyak orang yang tergoda untuk memenuhi gaya hidup dengan mengandalkan kartu kredit atau pinjaman. Padahal, utang yang tidak dikelola dengan baik bisa dengan cepat menumpuk dan menjadi beban.

Misalnya, kamu mungkin merasa mampu membayar cicilan, tapi dengan bunga yang terus bertambah, utang tersebut bisa melambung tinggi.

Banyak orang muda yang di usia 20-an mengalami masalah ini karena mereka tidak paham cara mengelola uang secara bijak. Utang konsumtif seperti belanja atau liburan bisa dengan cepat berubah menjadi masalah yang rumit, terutama jika penghasilanmu terbatas. Jika kamu tidak belajar cara mengelola utang dengan bijak, beban utang tersebut bisa menghambat perencanaan finansial dan bahkan memengaruhi kualitas hidupmu.

2. Gagal Menyusun Rencana Keuangan yang Jelas

Tanpa pengetahuan dasar tentang keuangan, kamu mungkin merasa bingung tentang bagaimana merencanakan masa depan finansialmu. Misalnya, apakah kamu sudah memikirkan dana pensiun atau tabungan darurat? Atau apakah kamu tahu seberapa besar uang yang harus disisihkan untuk investasi?

Banyak orang yang merasa sulit untuk mengatur keuangan pribadi karena mereka tidak tahu cara membuat perencanaan yang matang. Mereka cenderung mengikuti arus tanpa tujuan yang jelas, yang akhirnya mengarah pada ketidakpastian finansial. Sebagai hasilnya, saat menghadapi situasi tak terduga seperti sakit atau kehilangan pekerjaan, mereka tidak memiliki dana cadangan yang cukup.

Membuat perencanaan keuangan yang baik membutuhkan pemahaman tentang prioritas, pengeluaran, dan tabungan yang perlu dipenuhi. Ini adalah langkah pertama untuk memastikan bahwa kamu dapat memenuhi kebutuhan jangka panjang dan jangka pendek, serta merencanakan masa depan dengan tenang.

3. Terhambatnya Investasi dan Pertumbuhan Kekayaan

Jika kamu tidak memahami dasar-dasar investasi, kamu mungkin melewatkan peluang untuk menumbuhkan kekayaanmu. Banyak orang muda yang cenderung menunda-nunda investasi karena takut salah langkah atau tidak tahu harus mulai dari mana. Padahal, investasi adalah salah satu cara terbaik untuk memastikan bahwa uangmu tumbuh seiring waktu.

Banyak anak muda yang salah kaprah dalam mengelola uang, seperti menyimpan uang di tempat yang tidak produktif (misalnya hanya menabung di rekening bank tanpa bunga yang cukup) atau tidak memahami jenis investasi yang sesuai dengan tujuan keuangan mereka. Salah satu kesalahan umum adalah terlalu fokus pada investasi yang berisiko tinggi tanpa memahami risiko dan potensi imbal hasilnya.

Dengan meningkatkan literasi keuangan, kamu bisa mulai memahami berbagai instrumen investasi yang bisa digunakan, seperti saham, reksa dana, atau properti. Ini akan membuka banyak peluang untuk menumbuhkan kekayaan secara lebih efektif, tanpa takut menghadapi risiko yang tidak perlu.

4. Mengalami Ketimpangan Sosial dan Finansial Karena Tidak Ada Literasi Keuangan

Infografik kelebihan dan kekurangan ketimpangan sosial dan finansial

Kurangnya literasi keuangan juga bisa menyebabkan ketimpangan sosial dan finansial, baik dalam konteks individu maupun dalam masyarakat secara umum. Ketika seseorang tidak memahami cara mengelola uang, mereka berisiko terjebak dalam kemiskinan atau kesulitan finansial yang berkelanjutan. Di sisi lain, mereka yang memiliki literasi keuangan yang baik cenderung lebih mudah mengakses peluang dan meraih kesejahteraan finansial yang lebih tinggi.

Ketimpangan literasi keuangan di Indonesia cukup signifikan. Banyak orang yang tidak memahami cara mengatur pengeluaran atau memanfaatkan peluang keuangan yang ada, yang berujung pada ketidaksetaraan dalam hal kesejahteraan. Bahkan, di tingkat perusahaan, manajer atau pemimpin yang tidak menguasai literasi keuangan mungkin kesulitan untuk mengambil keputusan strategis yang menguntungkan bagi perusahaan.

5. Kesulitan Menghadapi Keadaan Darurat

Kehidupan sering kali penuh dengan kejutan yang tak terduga. Dari kecelakaan hingga sakit yang memerlukan biaya besar, keadaan darurat bisa datang kapan saja. Jika kamu tidak cukup paham tentang pentingnya dana darurat, kamu mungkin akan kesulitan untuk menghadapinya.

Dana darurat adalah hal yang sangat penting untuk dimiliki. Namun, tanpa pengetahuan tentang bagaimana cara menyisihkan uang untuk dana darurat, banyak orang yang gagal mempersiapkan diri. Hal ini bisa menyebabkan mereka kesulitan saat menghadapi situasi yang memerlukan uang mendesak, seperti biaya pengobatan atau perbaikan kendaraan.

Literasi keuangan bukanlah sesuatu yang hanya bermanfaat untuk para profesional atau pengusaha besar. Bagi kamu yang baru memulai karier atau berada di level manajer, memiliki pemahaman yang baik tentang pengelolaan keuangan sangat penting.

Mulailah dengan belajar mengatur pengeluaran, menabung, berinvestasi, dan memahami pentingnya dana darurat. Dengan langkah-langkah kecil ini, kamu bisa menghindari berbagai masalah finansial yang lebih besar di masa depan dan meraih kesejahteraan yang lebih stabil.

Ingat, finansial yang sehat tidak datang dengan sendirinya, tetapi harus dikelola dengan bijak. Jadi, jangan ragu untuk mulai belajar lebih banyak tentang literasi keuangan sekarang juga!

Apabila kamu masih bingung bagaimana cara mengatur pengeluaran dan menabung serta berinvesati untuk meraih kesejahteraan finansial. Kamu dapat bergabung pada kelas Veltica Academy yang berjudul “Wealth Literacy with Income Pentagon”

Kelas ini dirancang untuk siapa saja, baik pemula yang baru memulai perjalanan finansial maupun mereka yang ingin meningkatkan pengelolaan keuangannya. Yuk, mulai langkah kecil untuk mewujudkan kehidupan finansial yang lebih tenang dan sejahtera!

Daftar sekarang dan raih kesejahteraan finansial bersama Veltica Academy!

10 Soft Skill yang Harus Kamu Miliki di Dunia Kerja

Soft skill di dunia kerja

Saat ini, dunia kerja bukan cuma soal seberapa hebat kamu menguasai teknologi atau seberapa pintar kamu di bidang tertentu. Di era digital yang serba cepat ini, keahlian teknis memang penting, tapi bukan itu satu-satunya faktor yang akan membuat kariermu melesat.

Apalagi bagi Gen Z dan Millennial yang terkenal kreatif, penuh ide, dan selalu up-to-date dengan tren terbaru, ada beberapa hal yang perlu kamu asah agar bisa sukses di dunia profesional. Yup, soft skill!

Untuk bisa bertahan, bahkan unggul, di lingkungan kantor yang beragam ini, kamu butuh lebih dari sekadar tahu cara kerja teknologi terbaru. Kamu juga perlu menguasai soft skill—kemampuan yang nggak bisa diukur dengan angka, tapi justru menjadi kunci untuk meraih kesuksesan jangka panjang.

Pada artikel Veltica Academy ini, kami sudah menyiapkan 10 soft skill yang harus dimiliki di dunia kerja, yuk disimak!

Soft Skill yang Harus Dimiliki

  1. Bekerja sama dengan Tim Mungkin kamu pernah dengar ungkapan, “Bekerja sendiri itu oke, tapi bekerja bersama bisa menghasilkan lebih banyak.” Ini benar banget loh. Di dunia kerja, kerja sama tim bukan sekadar berbagi tugas, tapi tentang bagaimana kamu bisa bekerja harmonis dengan orang lain yang mungkin punya cara berpikir dan pendekatan yang berbeda. Kamu perlu mengerti kapan harus mengambil inisiatif, kapan harus mendengarkan, dan kapan harus memberikan dukungan kepada rekan satu tim. Kerja sama tim yang baik juga berarti mampu menyelesaikan konflik dengan bijak tanpa mempengaruhi hubungan kerja. Konflik dalam tim itu wajar, tapi kemampuan untuk mengatasinya dengan baik adalah yang membedakan antara tim yang sukses dan yang tidak. Tidak hanya itu, kerja sama tim juga mengajarkan kamu pentingnya empati. Dengan memahami sudut pandang orang lain dan mau mendengarkan ide-ide baru, kamu akan lebih mudah beradaptasi dan menemukan solusi yang terbaik untuk masalah yang ada.
  2. Kreativitas Jangan salah, kreativitas nggak cuma diperlukan di dunia seni! Di dunia kerja modern, kreativitas adalah kemampuan untuk berpikir berbeda, melihat peluang di tempat yang mungkin tidak terpikirkan orang lain, dan menemukan cara-cara baru untuk menyelesaikan masalah. Kemampuan berpikir kreatif juga sering kali membuat kamu jadi lebih adaptif. Dengan ide-ide baru, kamu bisa dengan mudah menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi di tempat kerja. Dalam dunia yang selalu berubah ini, fleksibilitas dan kreativitas bisa jadi kunci untuk tetap relevan dan kompetitif.
  3. Kecerdasan Emosional Kecerdasan emosional atau emotional intelligence (EQ) menjadi semakin penting di dunia kerja yang penuh tekanan. EQ adalah kemampuan untuk mengelola emosi diri sendiri, memahami emosi orang lain, dan menggunakan informasi tersebut untuk berkomunikasi dengan lebih baik. Orang dengan EQ yang tinggi bisa mengendalikan reaksi mereka di bawah tekanan dan tahu bagaimana cara mendekati orang lain dengan empati. Tidak hanya itu, EQ juga memengaruhi cara kamu menghadapi kegagalan atau kritik. Seseorang dengan EQ yang tinggi akan bisa menerima kritik dengan baik, belajar dari kesalahan, dan tetap fokus untuk mencapai tujuan jangka panjang tanpa merasa terpuruk. Inilah yang membuat EQ jadi aset penting untuk kesuksesan karier.
  4. Kemampuan Komunikasi Kemampuan komunikasi adalah salah satu soft skill paling penting yang harus kamu miliki. Komunikasi bukan hanya soal berbicara di depan umum atau memimpin rapat. Ini juga mencakup bagaimana kamu menulis email yang efektif, bagaimana menyampaikan ide dalam presentasi, atau bahkan bagaimana berbicara dengan klien melalui telepon. Semua itu memerlukan keterampilan komunikasi yang baik. Di tempat kerja, komunikasi yang buruk bisa menyebabkan kesalahpahaman, produktivitas yang rendah, bahkan konflik antar tim. Dengan kemampuan komunikasi yang baik, kamu bisa menyampaikan pesan secara jelas, menghindari kebingungan, dan memastikan semua orang berada di halaman yang sama. Tetapi penting juga untuk kamu memiliki kemampuan komunikasi secara asertif, yaitu berkomunikasi dengan tegas dan jelas, tetapi dengan tidak ada kesan intimidatif.

Being Assertive in Communication

26 November 2024 09.00–16.00|Kota Jakarta Selatan

Daftar Sekarang

  1. Adaptabilitas Dalam dunia kerja yang terus berubah, kemampuan untuk beradaptasi adalah suatu keharusan. Kamu nggak pernah tahu kapan ada perubahan dalam peran pekerjaanmu, kebijakan perusahaan, atau bahkan teknologi yang digunakan. Adaptabilitas adalah kemampuan untuk tetap tenang dan fleksibel dalam menghadapi perubahan, serta cepat menyesuaikan diri dengan kondisi baru. Adaptabilitas bukan hanya tentang menerima perubahan, tapi juga tentang bagaimana kamu bisa menghadapinya dengan antusias. Ini berarti kamu harus siap untuk belajar hal baru, baik itu skill baru, aplikasi baru, atau cara kerja baru. Semakin cepat kamu bisa beradaptasi, semakin besar peluangmu untuk tetap unggul di tempat kerja. Kemampuan adaptif juga berkaitan dengan bagaimana kamu mengelola stres. Saat menghadapi situasi yang tidak terduga atau di luar rencana, bagaimana kamu bisa tetap tenang dan mencari solusi? Jika kamu bisa menghadapi perubahan dengan cara yang positif, kamu akan jadi orang yang bisa diandalkan dalam berbagai situasi.
  2. Kepemimpinan Kepemimpinan adalah soft skill yang bisa dipelajari oleh siapa saja, bukan hanya untuk mereka yang memiliki jabatan tinggi. Memimpin berarti bisa menginspirasi, memotivasi, dan mengarahkan tim untuk mencapai tujuan. Seorang pemimpin yang baik tahu kapan harus memberikan arahan, kapan harus mendengarkan, dan kapan harus bertindak tegas. Di tempat kerja, kamu bisa menunjukkan kepemimpinan dengan mengambil inisiatif dalam proyek, memberikan dukungan kepada rekan kerja, atau membantu tim mencapai solusi saat menghadapi masalah. Menjadi pemimpin yang baik berarti kamu harus menjadi inspirasi, bukan intimidasi. Ketika kamu mampu memimpin dengan empati dan kepercayaan, timmu akan bekerja dengan lebih solid dan harmonis.
  3. Kemampuan Bernegosiasi Bernegosiasi adalah salah satu skill yang tidak hanya dibutuhkan dalam dunia pekerjaan saja tetapi juga di kehidupan sehari-hari kamu. Negosiasi bukan hanya soal mendapatkan apa yang kamu inginkan, tapi juga mencari solusi yang menguntungkan semua pihak. Di dunia kerja, ini bisa berarti negosiasi gaji, proyek, atau bahkan jadwal kerja. Negosiasi yang baik membutuhkan keahlian komunikasi dan kemampuan untuk memahami perspektif orang lain. Ini berarti kamu harus bisa mendengarkan kebutuhan lawan bicaramu, menilai situasi dengan objektif, dan menyajikan argumen dengan cara yang tidak konfrontatif. Selain itu, kemampuan bernegosiasi juga mengajarkan kamu untuk menjadi lebih diplomatis. Kamu harus tahu kapan harus berkompromi, kapan harus bertahan, dan bagaimana mencapai kesepakatan yang bisa diterima semua pihak.

The Art of Persuasion & Negotiation

27 November 2024 09.00–16.00|Kota Jakarta Selatan

Daftar Sekarang

  1. Keterampilan Teknologi Setiap bidang pekerjaan kini menggunakan teknologi dalam berbagai bentuk, sehingga kemampuan ini menjadi soft skill yang wajib dimiliki. Keterampilan teknologi mencakup kemampuan untuk memahami platform komunikasi digital, perangkat lunak manajemen proyek, hingga analisis data sederhana. Ini juga berarti kamu harus bisa belajar secara mandiri tentang alat-alat baru yang muncul, dan tahu bagaimana memanfaatkannya untuk mempermudah pekerjaan.
  2. Pemecahan Masalah Setiap pekerjaan pasti punya tantangan tersendiri. Di sinilah kemampuan untuk memecahkan masalah jadi sangat berharga. Pemecahan masalah adalah kemampuan untuk menganalisis situasi, mengidentifikasi akar masalah, dan merancang solusi yang efektif. Ini membutuhkan pemikiran kritis, logika, dan kesabaran. Kadang, solusi terbaik bukan yang paling jelas di depan mata, tapi yang perlu sedikit berpikir di luar kotak. Jadi, selalu tantang dirimu untuk melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda!
  3. Manajemen Waktu Manajemen waktu yang efektif adalah kemampuan yang wajib dimiliki di dunia kerja, terutama jika kamu harus juggling antara berbagai tugas dan tanggung jawab. Dunia kerja bisa sangat sibuk, dengan berbagai deadline yang harus dipenuhi. Tanpa manajemen waktu yang baik, kamu bisa merasa kewalahan dan pekerjaan jadi terbengkalai. Mengatur waktu dengan baik bukan hanya soal menyelesaikan pekerjaan tepat waktu, tapi juga tentang bagaimana kamu bisa tetap produktif tanpa merasa terbebani. Buatlah jadwal harian, tetapkan prioritas, dan jangan ragu untuk menggunakan aplikasi atau alat manajemen waktu untuk membantu mengatur jadwalmu. Teknik seperti time-blocking atau metode Pomodoro bisa sangat membantu untuk meningkatkan fokus dan efisiensi.

The Art of Getting Things Done

19 November 2024 09.00–16.00|Kota Jakarta Selatan

Daftar Sekarang

Itulah 10 soft skill yang perlu dimiliki pada kalangan dunia kerja Dengan menguasai soft skill yang tepat, kamu bisa menjadi kandidat yang lebih berharga di dunia kerja yang kompetitif. Ingat, teknologi dan keterampilan teknis bisa dipelajari, tapi kemampuan untuk berkomunikasi, memimpin, bekerja dalam tim, dan beradaptasi membutuhkan latihan dan pengalaman. Jadi, mulai kembangkan soft skill kamu dari sekarang untuk masa depan karier yang lebih cerah! Apabila kamu merasa bahwa membutuhkan sebuah Upgrade pada dunia professional mu dengan menambahkan skill-skill tertentu, maka Veltica Academy adalah jawabannya! Veltica Academy adalah bagian dari Vanaya & Co, kami memberikan pelatihan dengan harga terjangkau dan metode blended learning bagi manajer operasional dan menengah.

Sumber:

  1. Mutia Isni Rahayu, “20 Soft Skill yang Perlu Dimiliki oleh Semua Profesional Muda” https://glints.com/id/lowongan/soft-skill-untuk-profesional-muda/
  2. Tulus Wisbowo, Pentingnya Soft Skill dalam Dunia Kerja”, https://blk.karanganyarkab.go.id/pentingnya-soft-skill-dalam-dunia-kerja
  3. Kamsidah, “Pentingnya Soft Skill di Dunia Kerja” https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kpknl-semarang/baca-artikel/16017/Pentingnya-Soft-Skill-di-Dunia-Kerja.html
  4. Greatnusa, “Macam Macam Soft Skill yang Dapat Dikuasai”, https://greatnusa.com/article/macam-macam-soft-skill

Apa sih bedanya soft skill dan hard skill, yuk simak contohnya

Dua wanita sedang berdiskusi sambil menempelkan sticky notes warna-warni di jendela kaca, mencerminkan kolaborasi dan keterampilan komunikasi yang merupakan bagian dari soft skill

Kalau kamu sudah memasuki dunia kerja atau baru mau mulai, pasti sering dengar istilah soft skill dan hard skill. Dua hal ini sering banget muncul di postingan lowongan kerja, sesi wawancara, atau bahkan obrolan sehari-hari soal pengembangan diri.

Nah, buat kamu yang mungkin masih bingung tentang perbedaan keduanya, kali ini Veltica Academy akan bahas mengenai hal ini secara detil.

Sebagai generasi  yang tumbuh di era digital, kalian punya kelebihan tersendiri. Mulai dari adaptasi cepat terhadap teknologi baru, selalu up-to-date dengan tren, hingga kemampuan multitasking yang luar biasa. Tapi, apa itu cukup? Jawabannya: nggak cukup. Kamu perlu tahu kapan harus menggunakan hard skill—seperti menguasai program tertentu—dan kapan harus mengandalkan soft skill—seperti kemampuan negosiasi atau komunikasi yang baik.

Jadi, kenapa kita perlu paham perbedaan keduanya? Karena ini bukan cuma soal “tahu” tapi juga soal “bagaimana cara kamu mengasahnya” agar bisa sukses di dunia kerja yang super dinamis ini.

Ada kalanya kamu harus menunjukkan kemampuan teknis (alias hard skill) yang keren banget, dan di saat lain, kamu perlu tampil sebagai pribadi yang bisa membawa suasana kerja lebih baik dengan soft skill yang kamu miliki. Nah, yuk langsung kita kupas perbedaan soft skill dan hard skill beserta contoh-contohnya biar kamu makin paham dan bisa langsung praktek!

Apa Itu Soft Skill?

Sebuah tim yang terdiri dari pria dan wanita sedang bekerja sama dengan serius di atas meja, menggambarkan kerja sama tim dan keterampilan problem-solving yang esensial dalam soft skill.

Soft skill adalah keterampilan non-teknis yang lebih berkaitan dengan cara kamu berinteraksi, berkomunikasi, dan merespon situasi sehari-hari. Soft skill itu mirip dengan “senjata rahasia” yang bisa bikin kamu lebih mudah diterima dalam tim atau komunitas.

Keterampilan ini sering kali berhubungan dengan karakter pribadi dan kemampuan sosial seseorang, yang bisa sangat bervariasi antara satu orang dengan yang lain.

Keterampilan ini tidak dapat dipelajari hanya dengan membaca buku atau mengikuti kursus formal, tetapi lebih berkembang melalui pengalaman hidup, interaksi sosial, dan kerja sehari-hari. Keterampilan ini sering kali menjadi pembeda utama antara kandidat yang kompeten secara teknis dengan kandidat yang benar-benar sukses di dunia profesional.

Manfaat Memiliki Soft Skill yang Baik

Tentunya soft skill memiliki berbagai manfaat yang menguntungkan dalam karir dan kehidupanmu setiap hari, sebagai berikut :

  1. Meningkatkan Karier: Banyak survei yang menunjukkan bahwa karyawan dengan soft skill yang baik lebih cepat dipromosikan karena mereka mampu membangun hubungan baik dengan rekan kerja dan atasan.
  2. Mudah Beradaptasi: Dalam dunia kerja yang selalu berubah, kemampuan beradaptasi sangat penting. Soft skill seperti fleksibilitas dan pemecahan masalah membantu kamu untuk tetap relevan.
  3. Mempermudah Komunikasi: Soft skill yang baik membuat komunikasi lebih efektif, baik dengan tim, atasan, maupun klien. Ini bisa mengurangi miskomunikasi dan meningkatkan efisiensi kerja.

Contoh-Contoh Soft Skill

  1. Komunikasi: Bukan hanya berbicara, tetapi juga kemampuan mendengarkan dengan baik, memahami bahasa tubuh, dan menyampaikan ide dengan cara yang dapat diterima oleh audiens.
  2. Kepemimpinan: Tidak selalu berarti menjadi atasan, tetapi lebih pada bagaimana kamu bisa menjadi contoh, memotivasi orang lain, dan mengambil inisiatif.
  3. Kreativitas: Bukan hanya tentang seni, tetapi juga tentang bagaimana kamu bisa menemukan ide baru atau pendekatan unik dalam menyelesaikan masalah.
  4. Pemecahan Masalah: Kemampuan berpikir kritis untuk menemukan solusi dari situasi yang rumit atau tidak terduga.
  5. Kerja Sama Tim: Kemampuan untuk bekerja dengan orang lain secara harmonis.
Apa Itu Hard Skill?
Seorang wanita sedang fokus menulis kode di komputer dengan tampilan layar penuh baris kode, menggambarkan penguasaan hard skill dalam pemrograman dan teknologi.

Hard skill adalah keterampilan teknis yang spesifik, yang bisa diukur, diajarkan, dan dipelajari melalui pendidikan formal, pelatihan, atau pengalaman langsung. Hard skill adalah keterampilan yang lebih “nyata” atau konkrit, artinya ada cara jelas untuk mengevaluasinya, seperti ujian, tes, atau sertifikasi.

Kalau soft skill lebih fokus pada kepribadian dan interaksi, hard skill adalah apa yang kamu bisa lakukan secara teknis atau spesifik.

Keterampilan ini biasanya adalah kemampuan inti yang dibutuhkan untuk pekerjaan tertentu. Misalnya, seorang programmer harus menguasai bahasa pemrograman tertentu, atau seorang desainer grafis harus paham cara menggunakan software desain.

Tanpa hard skill yang mumpuni, sulit bagi seseorang untuk melakukan pekerjaan spesifik dengan baik.

Manfaat Memiliki Hard Skill yang Kuat

Kita sudah membahas manfaat-manfaat soft skill diatas, terus hard skill yang seharusnya lebih spesifik apa saja manfaatnya?

  1. Memudahkan Mendapatkan Pekerjaan: Hard skill adalah “tiket masuk” ke dunia kerja, karena sering kali menjadi syarat utama dalam rekrutmen.
  2. Memberikan Keahlian yang Konkret: Hard skill membuat kamu bisa menyelesaikan pekerjaan dengan cara yang efisien dan terstruktur. Ini sangat penting untuk pekerjaan yang memerlukan keahlian teknis tertentu.
  3. Meningkatkan Kredibilitas: Hard skill yang dibuktikan dengan sertifikat atau portofolio yang kuat akan meningkatkan kredibilitas kamu di mata rekan kerja atau klien.

Contoh-Contoh Hard Skill

  1. Graphic Design
  2. Copywriting
  3. Digital Marketing
  4. Video Editing
  5. Project Management
  6. Accounting
  7. Ads Management
  8. Content Creation
  9. Marketing Communication
  10. Microsoft Office
  11. Data Mining
  12. Data Analysis
  13. Data Visualization
  14. Content Writing
  15. Google Ads

Jadi Mana yang lebih penting antara Soft Skill dan Hard Skill?

Perlu diingat bahwa dengan segala informasi diatas, perusahaan semakin mencari kandidat yang memiliki kombinasi yang kuat antara soft skill dan hard skill, karena inilah yang membedakan seorang pekerja biasa dari seorang profesional yang unggul.

Jadi, buat kamu yang sedang meniti karier, jangan hanya fokus pada kemampuan teknis atau hard skill saja. Berinvestasi dalam pengembangan soft skill juga sangat penting agar kamu bisa tampil lebih percaya diri, menjadi bagian dari tim yang solid, dan mampu beradaptasi dalam berbagai situasi. Dengan begitu, kamu bukan hanya akan mampu “memasuki” dunia kerja, tetapi juga “menguasainya.”

Mulailah sekarang untuk mengasah kedua jenis keterampilan ini, baik lewat pengalaman hidup, kursus, maupun proyek pribadi. Karena dengan kombinasi soft skill dan hard skill yang baik, kamu akan menjadi kandidat yang dicari banyak perusahaan dan siap menghadapi tantangan karier apapun di masa depan

Kamu bisa mulai berinvestasi untuk mengembangkan skill-skill yang diperlukan pada masa kini dengan mengikuti kursus-kursus Veltica Academy!

Veltica Academy adalah bagian dari Vanaya & Co, kami memberikan pelatihan dengan harga terjangkau dan metode blended learning bagi manajer operasional dan menengah.

Sumber:

  1. Bagas, “Hard Skill vs Soft Skill: Ketahuilah perbedaannya!” https://bcomms.telkomuniversity.ac.id/hard-skill-vs-soft-skill-ketahuilah-perbedaannya/
  2. Devi Lianovanda, “Mengenal Perbedaan Hard Skill dan Soft Skill Beserta Contohnya”, https://blog.skillacademy.com/mengenal-perbedaan-hard-skill-dan-soft-skill
  3. Rendi Mahendra, “Perbedaan Soft Skill dan Hard Skill, Contoh dan Pentingnya dalam Dunia Kerja”, https://kabar24.bisnis.com/read/20231121/243/1715931/perbedaan-soft-skill-dan-hard-skill-contoh-dan-pentingnya-dalam-dunia-kerja

Mengatasi Perbedaan Antara Hal Mendesak dan Penting: Pelajaran dari “The Art of Getting Things Done”

ree

Pada tanggal 19 November 2024, Veltica Academy berhasil menyelenggarakan kelas pertamanya yang berjudul “The Art of Getting Things Done“. Jullieta Samosir, fasilitator berpengalaman, memimpin sesi ini dengan penuh semangat dan antusias.

Sesi ini dirancang untuk membantu para peserta memahami dan mengatasi tantangan dalam mengelola waktu serta memprioritaskan tugas dengan lebih efektif.

Memahami Perbedaan Mendesak dan Penting

Sesi ini dipimpin oleh Jullieta Samosir, seorang fasilitator berpengalaman yang membawa perspektif praktis ke dalam pelatihan. Dengan pendekatan yang interaktif, para peserta tidak hanya mendengarkan teori, tetapi juga berpartisipasi dalam diskusi kelompok dan latihan praktis. Salah satu latihan yang paling diapresiasi adalah untuk mempelajari apa pekerjaan yang important dan apa pekerjaan yang urgent.

Latihan ini membantu mereka menyadari betapa pentingnya mengelola gangguan untuk menjaga produktivitas.

Para peserta juga diajak untuk mengevaluasi kebiasaan mereka dalam mengelola waktu. Banyak di antara mereka menyadari bahwa kebiasaan multitasking atau penundaan sering kali menjadi penyebab utama kurangnya produktivitas. Melalui sesi ini, mereka belajar teknik-teknik seperti Pomodoro Technique dan penggunaan daftar prioritas berbasis matriks Eisenhower untuk menyusun tugas berdasarkan tingkat urgensi dan kepentingannya.

Apresiasi dan Harapan

Kami mengucapkan terima kasih kepada Jullieta Samosir yang telah berbagi pengalaman dan keahliannya dalam memandu sesi ini. Dedikasinya memberikan inspirasi bagi semua peserta untuk terus belajar dan berkembang. Terima kasih juga kepada seluruh peserta yang telah berkontribusi aktif dalam diskusi dan latihan, menjadikan sesi ini lebih bermakna.

Sesi ini merupakan langkah awal dalam perjalanan untuk menjadi lebih produktif dan fokus. Kami percaya bahwa pembelajaran ini akan membantu peserta tidak hanya dalam karier mereka, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menerapkan prinsip-prinsip yang telah dipelajari, mereka dapat mencapai tujuan dengan lebih terarah dan efektif.

Closing Deals Fundamentals Agar Kamu Bisa Jago Jualan

Closing Deals

Kamu sering merasa kesulitan untuk menutup sebuah penawaran/penjualan dalam bisnis kamu? Atau sering kali kesepakatan kamudengan pelanggan gagal di saat-saat terakhir?

Mungkin kamu belum paham apa yang dibutuhkan pelanggan kamu secara mendalam. Penjualan bukan cuma sekedar transaksi, tetapi juga tentang membangun hubungan yang berkelanjutan dengan pelanggan. Dengan memahami kebutuhan pelanggan, kamu tidak hanya dapat menutup dan memenangkan penjualan, tetapi juga membantu organisasi mencapai pertumbuhan pendapatan yang berkelanjutan.

Kamu bisa ikutan program Closing Deals Fundamentals dari kami yang akan membantu kamu bisa menguasai seni memahami kebutuhan pelanggan dan teknik-teknik dalam melakukan penjualan.

Flyer Closing Deals Fundamentals 18 Desember 24

📅 Tanggal: Rabu, 18 Desember 2024

📍 Lokasi: Online & Offline (The Venue @18 Office Park, Jakarta Selatan

Super Worth It! ❗❗❗ Dapatkan semua benefit ini:

✅ Coffee Break & Lunch Break

✅ E-Certificate

✅ Networking buat kenalan dengan teman-teman sales!

✅ Belajar langsung dari expertnya

Daftar sekarang di https://bit.ly/ClosingDeals18Des dan ajak tim kamu ikut!

10 Teknik Closing Sales yang Fundamental untuk Meningkatkan Penjualan Tim Sales dan Contohnya!

ree

Ketika kamu mulai memimpin sebuah tim sales, salah satu tantangan utama yang akan dihadapi adalah memastikan bahwa setiap anggota tim mampu menyelesaikan transaksi dengan efektif. Closing adalah bagian paling krusial dalam proses penjualan.

Meskipun terlihat sederhana, momen ini menentukan apakah usaha yang sudah dilakukan—dari pendekatan, presentasi, hingga negosiasi—akan berbuah manis atau tidak.

Sebagai manajer baru, menguasai teknik closing tidak hanya berarti menambah kemampuan pribadi, tetapi juga memengaruhi keberhasilan seluruh tim. Berikut adalah 10 teknik closing sales yang fundamental untuk meningkatkan penjualan dari Veltica Academy, lengkap dengan contoh penerapannya agar Anda dapat memaksimalkan dampaknya.

1. Teknik “Now or Never”

Teknik ini mengandalkan urgensi untuk mendorong pelanggan mengambil keputusan. Misalnya, Anda dapat menawarkan diskon besar atau bonus tambahan yang hanya berlaku dalam waktu terbatas. Contohnya adalah, “Promo ini hanya berlaku hari ini saja. Jika Anda memesan sekarang, Anda mendapatkan diskon 20% plus garansi tambahan selama satu tahun.”

Infografik yang menggambarkan teknik untuk mendorong keputusan pelanggan

Urgensi menciptakan tekanan waktu pada pelanggan. Namun, penting untuk menjaga keaslian dari penawaran ini. Jika penawaran eksklusif terlalu sering dilakukan atau tidak benar-benar istimewa, pelanggan bisa kehilangan kepercayaan. Teknik ini sangat efektif jika diterapkan pada pelanggan yang cenderung suka menunda keputusan. Dengan mengatur momen yang tepat, peluang closing Anda akan meningkat pesat.

Sebagai alternatif, gunakan pendekatan yang lebih halus. Misalnya, berikan pilihan seperti, “Stok produk ini terbatas, tapi saya bisa memprioritaskan Anda jika memutuskan hari ini.” Dengan cara ini, urgensi tetap tersampaikan tanpa terlihat seperti tekanan langsung.

2. Summary Closing

Kadang-kadang pelanggan membutuhkan pengingat mengapa mereka harus membeli produk Anda. Dalam teknik ini, Anda mengulang poin-poin utama yang telah dijelaskan sebelumnya, seperti manfaat utama produk. Misalnya, “Dengan fitur ini, Anda bisa menghemat hingga 30% waktu kerja tim Anda. Tidak hanya itu, layanan kami mencakup konsultasi gratis selama tiga bulan. Apa Anda ingin memulai sekarang?”

Dengan mengulang manfaat yang relevan, Anda membantu pelanggan memvisualisasikan nilai nyata yang akan mereka dapatkan. Jangan lupa untuk menyesuaikan ringkasan ini dengan kebutuhan spesifik pelanggan yang sudah diidentifikasi. Contohnya, jika pelanggan lebih peduli dengan efisiensi, fokuskan pada bagaimana produk Anda mempercepat proses kerja mereka, bukan fitur tambahan yang kurang relevan.

Teknik ini juga efektif untuk pelanggan yang cenderung detail-oriented. Mereka sering kali ingin memastikan bahwa setiap aspek sudah dipertimbangkan sebelum mengambil keputusan. Dengan penuturan yang terstruktur, Anda dapat mengurangi keraguan mereka.

3. Teknik Empati

Empati adalah salah satu senjata paling ampuh dalam dunia sales. Teknik ini bertujuan untuk membangun hubungan emosional dengan pelanggan, dengan menunjukkan bahwa Anda memahami kebutuhan, kekhawatiran, atau tantangan mereka. Misalnya, “Saya paham bahwa anggaran Anda terbatas saat ini. Karena itu, kami menawarkan opsi cicilan agar solusi ini tetap terjangkau.”

Saat menggunakan teknik ini, fokuslah pada komunikasi yang otentik. Jangan sekadar mengatakan “Saya mengerti,” tetapi tunjukkan pemahaman Anda melalui solusi nyata. Pelanggan ingin merasa bahwa mereka tidak hanya sedang berbicara dengan seorang penjual, tetapi dengan seseorang yang benar-benar ingin membantu mereka.

Empati juga menciptakan hubungan jangka panjang. Pelanggan yang merasa dipahami cenderung lebih loyal, bahkan jika mereka tidak langsung membeli. Oleh karena itu, pendekatan ini sering kali menjadi investasi yang memberikan hasil dalam jangka waktu lebih panjang.

4. Gunakan Testimoni dan Bukti Sosial

Gambar testimoni-testimoni restoran lewat handphone

Tidak ada yang lebih meyakinkan daripada cerita sukses dari pelanggan lain. Orang cenderung mempercayai pengalaman nyata dibandingkan promosi penjual. Oleh karena itu, gunakan testimoni atau studi kasus untuk menunjukkan bagaimana produk Anda telah membantu pelanggan lain. Contohnya, “Salah satu klien kami di industri yang sama melaporkan bahwa mereka mampu meningkatkan efisiensi tim hingga 50% setelah menggunakan produk kami.”

Testimoni akan lebih efektif jika relevan dengan pelanggan yang sedang Anda hadapi. Jika Anda berbicara dengan perusahaan kecil, gunakan contoh dari perusahaan serupa, bukan dari perusahaan besar yang memiliki kebutuhan berbeda. Pastikan juga bahwa bukti sosial yang Anda sampaikan mudah diverifikasi, misalnya dengan mencantumkan nama perusahaan atau hasil spesifik yang telah dicapai.

Untuk meningkatkan kepercayaan, Anda bisa menunjukkan data tambahan, seperti angka peningkatan kinerja atau ulasan langsung dari platform terpercaya. Pendekatan ini akan memberikan validasi lebih kuat untuk membantu proses closing Anda.

5. Bandingkan dengan Kompetitor

Kompetisi adalah bagian dari dunia bisnis, dan pelanggan sering kali membandingkan produk Anda dengan yang lain. Teknik ini bertujuan untuk menyoroti keunggulan produk Anda tanpa perlu menjatuhkan kompetitor secara langsung. Misalnya, “Produk kami menawarkan fitur X yang tidak dimiliki oleh kompetitor. Selain itu, kami menyediakan dukungan pelanggan 24/7 tanpa biaya tambahan.”

Gunakan fakta yang objektif dan relevan dengan kebutuhan pelanggan. Sebagai contoh, jika pelanggan mencari solusi hemat biaya, fokuslah pada bagaimana produk Anda memberikan nilai lebih baik dengan harga yang bersaing. Namun, hindari terlalu banyak menyebut nama kompetitor atau terkesan menyerang. Pendekatan yang terlalu agresif dapat membuat pelanggan tidak nyaman.

Sebaliknya, tunjukkan bahwa Anda memahami kebutuhan mereka dan sedang membantu mereka memilih solusi terbaik. Sikap profesional ini sering kali lebih dihargai oleh pelanggan.

6. Teknik Ben Franklin

Jika pelanggan terlihat ragu, bantu mereka membuat keputusan dengan teknik Ben Franklin. Dalam teknik ini, Anda membantu pelanggan menyusun daftar pro dan kontra dari produk Anda. “Mari kita buat daftar. Keuntungannya, Anda akan mendapatkan X, Y, dan Z. Menurut Anda, apa ada hal yang perlu kita pertimbangkan lebih jauh?”

Infografik mengenai teknik ben franklin dalam sales

Teknik ini cocok untuk pelanggan yang analitis atau cenderung berpikir logis. Dengan melihat keuntungan secara langsung di atas kertas, mereka biasanya lebih yakin bahwa keputusan mereka rasional. Jangan lupa untuk menyusun daftar secara kolaboratif agar pelanggan merasa bahwa keputusan ini sepenuhnya ada di tangan mereka.

Namun, hindari membuat daftar yang terlalu berat sebelah. Jika ada kekurangan pada produk Anda, akui dengan jujur tetapi tunjukkan bagaimana manfaatnya tetap jauh lebih besar. Transparansi ini akan meningkatkan kepercayaan pelanggan.

7. Take Away Closing

Teknik ini memanfaatkan rasa takut kehilangan (fear of missing out) untuk mendorong pelanggan segera bertindak. Anda bisa mengatakan, “Produk ini hanya tersedia dalam jumlah terbatas, dan stok warna favorit ini sering habis dalam waktu singkat.”

Namun, gunakan teknik ini dengan hati-hati. Jika pelanggan merasa Anda terlalu manipulatif atau klaim Anda tidak benar, hal ini bisa merusak kepercayaan. Pastikan bahwa kelangkaan atau urgensi yang Anda sampaikan benar adanya. Sebagai contoh, Anda bisa menggunakan data penjualan sebelumnya untuk mendukung pernyataan Anda, seperti, “Minggu lalu stok ini habis hanya dalam dua hari.”

8. Teknik Bundling

Strategi bundling memungkinkan Anda untuk menawarkan beberapa produk dalam satu paket dengan harga yang lebih menarik. Misalnya, jika Anda menjual perangkat lunak, tawarkan paket yang mencakup pelatihan, dukungan teknis, dan lisensi tambahan. “Dengan paket ini, Anda tidak hanya mendapatkan produk utama, tetapi juga pelatihan gratis selama satu bulan.”

Paket bundling ini memberikan nilai lebih besar bagi pelanggan sambil membantu Anda meningkatkan volume penjualan. Pastikan bahwa setiap elemen dalam bundling tersebut memiliki nilai nyata untuk pelanggan.

9. Teknik “Something for Nothing”

Teknik ini memanfaatkan daya tarik sesuatu yang gratis untuk mendorong pelanggan mengambil keputusan. Contoh klasik adalah penawaran bonus, hadiah, atau layanan tambahan yang diberikan tanpa biaya ekstra. Misalnya, “Beli produk ini hari ini, dan Anda akan mendapatkan pengiriman gratis serta layanan konsultasi selama satu bulan.”

Keuntungan dari teknik ini adalah menciptakan kesan bahwa pelanggan mendapatkan nilai lebih dari transaksi mereka. Namun, agar teknik ini efektif, pastikan bahwa “sesuatu yang gratis” tersebut relevan dan benar-benar memiliki nilai di mata pelanggan. Misalnya, jika Anda menjual produk teknologi, menawarkan pelatihan atau panduan gratis akan lebih efektif daripada memberikan merchandise umum yang kurang bermanfaat.

Selain itu, strategi ini juga memberikan kesan bahwa Anda peduli dengan pengalaman pelanggan setelah pembelian, bukan hanya mengejar penjualan semata. Hal ini dapat meningkatkan loyalitas dan membuka peluang untuk penjualan berulang di masa mendatang.

10. Trial atau Demo Produk

Memberikan pelanggan kesempatan untuk mencoba produk sebelum membeli adalah salah satu cara paling efektif untuk membangun kepercayaan. Contohnya adalah uji coba gratis selama 14 hari untuk perangkat lunak, atau sesi demo untuk layanan tertentu. “Cobalah dulu selama dua minggu, dan lihat bagaimana ini membantu meningkatkan produktivitas Anda.”

Teknik ini sangat ampuh karena memungkinkan pelanggan untuk mengalami manfaat produk secara langsung. Ketika pelanggan dapat melihat sendiri bagaimana produk Anda memecahkan masalah mereka, keraguan yang mungkin ada sering kali berkurang. Namun, pastikan untuk mendampingi mereka selama masa trial atau demo. Berikan panduan, jawaban atas pertanyaan, dan dukungan yang diperlukan.

Langkah lanjutan juga penting. Jangan biarkan masa trial berakhir tanpa tindak lanjut. Hubungi pelanggan untuk mendiskusikan pengalaman mereka, menjawab kekhawatiran, dan membantu mereka mengambil langkah berikutnya. Dengan demikian, Anda tidak hanya meningkatkan peluang closing tetapi juga menciptakan pengalaman pelanggan yang positif.

Jadi, Teknik Closing Sales Mana yang Paling Efektif?

Tidak ada teknik closing yang universal untuk semua situasi. Efektivitas setiap teknik sangat bergantung pada kebutuhan pelanggan, produk yang ditawarkan, dan konteks percakapan. Teknik seperti Now or Never mungkin bekerja efektif untuk pelanggan yang mudah terdorong oleh urgensi, sementara pelanggan yang lebih analitis akan merasa lebih nyaman dengan Ben Franklin Method. Pendekatan berbasis empati atau demo produk bisa menjadi pilihan ideal untuk pelanggan yang membutuhkan keyakinan emosional maupun pengalaman langsung.

Sebagai seorang pemimpin tim sales, penting untuk mengedukasi anggota tim Anda agar fleksibel dalam menggunakan berbagai teknik ini. Dorong mereka untuk mendengarkan kebutuhan pelanggan secara aktif dan memilih pendekatan yang paling relevan. Dengan mempraktikkan berbagai teknik secara strategis, Anda dapat membantu tim mencapai hasil optimal dan membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan.

Jika Anda atau tim sales Anda ingin lebih memahami cara menerapkan teknik closing secara efektif, kami sangat merekomendasikan untuk mengikuti Closing Deals Fundamentals di Veltica Academy. Program ini dirancang khusus untuk membekali Anda dengan strategi praktis, simulasi nyata, dan insight mendalam yang dapat langsung diterapkan di lapangan.

👉 Daftar sekarang di sini dan tingkatkan kemampuan closing Anda ke level berikutnya!

Tahun Baru, Tantangan Baru: Skill Wajib untuk Hadapi 2025

ree

Selamat datang di 2025! Tahun baru selalu membawa harapan dan peluang, namun juga tantangan yang harus dihadapi dengan persiapan yang matang. Dunia kerja kini semakin dinamis. Perubahan teknologi, pola kerja hybrid, dan persaingan global menjadi pemandangan sehari-hari. Dalam menghadapi semua ini, satu hal yang pasti: kita harus terus berkembang.

Buat kamu yang baru memulai karier atau bahkan sudah di level manajer, ada kabar baik. Skill-skill yang akan menjadi kunci suksesmu bisa mulai diasah dari sekarang, dan pastinya relevan untuk kebutuhan zaman. Veltica Academy hadir untuk membantu kamu mempersiapkan diri dengan cara yang santai tapi efektif. Nah, kira-kira skill wajib tahun 2025 apa saja yang perlu kamu kuasai di tahun ini? Yuk, simak ulasannya di bawah ini!

  1. Komunikasi yang Efektif dan EmpatikKomunikasi itu nggak cuma soal ngomong atau nulis email. Kamu juga perlu belajar memahami lawan bicara. Apalagi kalau kerja tim sudah lintas generasi dan budaya. Tanpa empati, pesan yang kamu sampaikan bisa saja salah diterima. Pernah nggak sih kamu mengirim chat ke grup kerja, tapi malah nggak ada yang merespons? Bisa jadi gaya bahasamu kurang pas, atau mungkin waktunya kurang tepat. Komunikasi yang efektif adalah seni yang harus diasah terus-menerus. Jangan ragu untuk meminta feedback dari rekan kerja tentang bagaimana caramu berkomunikasi. Dan jangan lupa, empati itu penting. Kalau rekanmu terlihat lelah atau terganggu, berikan ruang untuk mereka. Terkadang, komunikasi terbaik adalah mendengarkan tanpa interupsi. Kalau bingung mulai dari mana, coba teknik 3C: Clear, Concise, dan Courteous (Jelas, Singkat, dan Sopan). Dengan begitu, pesanmu nggak hanya dimengerti, tapi juga meninggalkan kesan yang baik.ree
  1. Adaptasi Teknologi: Nggak Harus Jadi Ahli, Tapi Harus PahamTeknologi terus berkembang, dan kamu nggak bisa cuma diam di tempat. Tapi tenang, kamu nggak perlu jadi programmer atau hacker buat survive. Yang penting, pahami teknologi dasar yang relevan dengan pekerjaanmu.
    Misalnya, kalau kantormu mulai pakai project management tool seperti Trello atau Asana, jangan tunggu sampai ketinggalan. Ambil waktu untuk eksplorasi fitur-fiturnya. Bahkan hal sederhana seperti memahami shortcut keyboard di aplikasi kerja bisa bikin tugasmu lebih efisien. Pernah dengar istilah “big data”? Meski kamu bukan analis data, punya pemahaman dasar tentang bagaimana data digunakan untuk mendukung pengambilan keputusan bisa jadi nilai tambah besar. Belajar tentang ini nggak harus formal; ada banyak kursus online singkat yang bisa kamu ikuti.
    Dan, ini tips ekstra: jika ada teknologi baru yang diperkenalkan di tempat kerja, jadilah yang pertama mencoba. Menjadi “early adopter” akan memberi kamu keunggulan kompetitif dan membuatmu terlihat lebih adaptif di mata atasan.
  2. Kolaborasi yang Lebih FleksibelBekerja bareng tim memang bisa jadi tantangan tersendiri, apalagi kalau tiap anggota punya cara kerja dan kebiasaan yang berbeda. Tapi, justru di situlah letak kekuatannya. Kalau kamu bisa fleksibel dalam berkolaborasi, hasil kerja tim pasti akan lebih maksimal.
    Pernah nggak sih kamu merasa “nggak klik” sama gaya kerja rekan satu tim? Nah, di sinilah pentingnya memahami gaya komunikasi dan prioritas mereka. Dengan sedikit usaha untuk menyesuaikan diri, kamu bisa menciptakan lingkungan kerja yang lebih harmonis.
    Dan satu lagi, jangan pelit berbagi ide. Kolaborasi yang sukses adalah tentang saling memberi dan menerima masukan, bukan cuma soal “gue aja yang benar.” Kalau kamu ingin ide diterima, pastikan kamu juga mendengarkan ide orang lain. Saling menghargai adalah dasar dari kolaborasi yang sukses.
    Namun, ada kalanya kolaborasi juga menuntut kemampuan menyelesaikan konflik. Jangan takut untuk membicarakan perbedaan secara terbuka, tetapi tetap hormat. Ini akan membuat tim lebih solid dan saling percaya.
    Satu rahasia: bangun chemistry di luar pekerjaan juga membantu. Coba ajak timmu untuk makan siang bareng atau sekadar ngobrol santai setelah jam kerja. Kadang, momen informal bisa menciptakan hubungan kerja yang lebih solid.
  3. Critical Thinking!reeBanyak yang mengira berpikir kritis itu cuma buat orang yang kerja di bidang teknis atau analitis. Padahal, siapa saja butuh skill ini, termasuk kamu yang kerja di bidang kreatif sekalipun. Dengan berpikir kritis, kamu nggak cuma menerima informasi mentah-mentah, tapi juga bisa memilah mana yang penting dan mana yang nggak.
    Contoh sederhana: ada masalah di kantor, seperti deadline yang mepet. Bukannya panik, kamu coba cari tahu dulu apa penyebabnya. Apakah ada miskomunikasi? Atau mungkin sistem yang digunakan terlalu rumit? Dengan analisis seperti ini, kamu bisa menawarkan solusi yang lebih tepat.
    Tapi, berpikir kritis juga butuh latihan. Mulailah dengan bertanya “kenapa” lebih sering. Semakin banyak kamu bertanya, semakin tajam kemampuan analisismu. Kadang, jawaban terbaik datang dari pertanyaan yang sederhana tapi mendalam.
  4. Growth MindsetKalau ada satu skill yang bisa bikin kamu terus maju, ini dia: growth mindset. Intinya, ini adalah pola pikir di mana kamu percaya bahwa kemampuanmu bisa terus berkembang dengan usaha dan pembelajaran.
    Orang dengan growth mindset nggak takut gagal. Mereka justru melihat kegagalan sebagai kesempatan belajar. Jadi, kalau kamu pernah merasa stuck di pekerjaan, coba tanya diri sendiri: apakah kamu sudah cukup terbuka untuk mencoba hal baru?
    Latihan growth mindset bisa dimulai dari hal kecil. Misalnya, coba ambil tantangan baru di kantor, meskipun itu di luar zona nyamanmu. Atau, luangkan waktu untuk belajar skill baru, seperti public speaking atau data analysis. Nggak perlu langsung jago, yang penting adalah prosesnya.
  5. Manajemen Waktu: Jangan Lagi Keburu-buruSiapa di sini yang masih sering kerja sampai lembur? Kalau kamu termasuk, mungkin manajemen waktumu butuh diperbaiki. Bukan soal kerja lebih cepat, tapi kerja lebih cerdas. Kamu perlu tahu mana tugas yang benar-benar prioritas dan mana yang bisa ditunda. Coba deh gunakan metode Eisenhower Matrix. Bagi tugasmu ke dalam empat kategori: Penting-Mendesak, Penting-Tidak Mendesak, Tidak Penting-Mendesak, dan Tidak Penting-Tidak Mendesak. Dengan begitu, kamu bisa fokus ke hal-hal yang benar-benar berdampak besar.
ree

Tapi, ada satu hal penting: jangan lupa istirahat. Kerja terus-menerus tanpa jeda malah bikin produktivitasmu turun, lho. Ingat, tubuh dan pikiranmu juga butuh recharge.

Tahun 2025 adalah peluang baru buat kamu yang mau terus berkembang. Jangan takut untuk memulai, meskipun itu berarti harus belajar dari awal. Yang penting adalah kamu punya niat untuk terus maju.

Kalau kamu merasa butuh panduan yang lebih terarah, coba cek program di Veltica Academy. Program kami dirancang untuk upgrade skill kamu dengan keterampilan yang sedang relevan pada dunia perkantoran, dengan pendekatan blended learning yang santai tapi tetap efektif. Kamu bisa belajar skill-skill penting seperti komunikasi, kolaborasi, hingga leadership, semuanya dengan metode yang relevan dan praktis.

Jadi, tunggu apa lagi? Mulai perjalanan pengembangan dirimu sekarang, dan jadikan 2025 tahun di mana kamu benar-benar bersinar di dunia kerja! Kunjungi website Veltica Academy untuk informasi lebih lanjut. Sukses selalu untuk kamu!

Kenaikan PPN 12%: Tantangan dan Solusi Teknis bagi Tenaga Penjualan

ree

Mulai 1 Januari 2025, Indonesia resmi memberlakukan kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari 11% menjadi 12%. Dengan kebijakan ini, Indonesia akan memiliki tarif PPN tertinggi di kawasan ASEAN, melampaui beberapa negara tetangga seperti Malaysia (6%) dan Thailand (7%). Kenaikan ini bertujuan untuk meningkatkan penerimaan negara demi pembangunan berkelanjutan dan menciptakan keadilan dalam sistem perpajakan.

Namun, tarif PPN yang lebih tinggi ini bukan tanpa konsekuensi. Di tengah daya beli masyarakat yang masih rentan terhadap perubahan harga, kenaikan ini diprediksi akan memberikan tantangan besar, terutama bagi sektor penjualan barang dan jasa mewah. Tenaga penjualan, sebagai ujung tombak pemasaran, kini harus menghadapi kenyataan bahwa pelanggan akan semakin berhati-hati dalam berbelanja, terlebih untuk barang-barang dengan harga tinggi yang terkena dampak langsung kenaikan PPN.

Dampak Kenaikan PPN 12% terhadap Penjualan

Dalam menghadapi perubahan ini, penting bagi tenaga penjualan untuk memahami dampaknya secara menyeluruh dan mempersiapkan strategi yang adaptif. Dengan pendekatan yang tepat, mereka dapat mengubah tantangan kenaikan PPN menjadi peluang untuk memperkuat hubungan dengan pelanggan dan menciptakan nilai yang lebih besar, berikut adalah beberapa tantangan yang dihadapi para sales dalam era 12%

  1. Peningkatan Harga Barang dan Jasa Tarif PPN 12% secara langsung meningkatkan harga jual produk dan jasa di pasaran. Hal ini memengaruhi daya beli konsumen, terutama pada segmen yang sensitif terhadap harga, seperti barang mewah atau produk dengan elastisitas permintaan tinggi. Dengan harga yang lebih tinggi, konsumen cenderung lebih selektif dalam berbelanja, yang berujung pada potensi penurunan volume penjualan.
  2. Penurunan Daya Saing RegionalKonsumen kini lebih memprioritaskan kebutuhan dasar daripada barang sekunder atau tersier. Mereka mencari produk yang memberikan manfaat nyata atau alternatif yang lebih hemat. Pergeseran ini menekan tenaga penjualan untuk tidak hanya menawarkan produk, tetapi juga mampu menjelaskan nilai tambah dan manfaatnya dalam jangka panjang.
  3. Tekanan Kompetisi di PasarKenaikan harga akibat PPN memicu peningkatan persaingan antar perusahaan dalam mempertahankan pangsa pasar. Pemain pasar perlu berinovasi dalam strategi penjualan dan pemasaran. Produk dengan diferensiasi yang jelas akan memiliki peluang lebih besar untuk tetap relevan di pasar yang semakin ketat.
  4. Dampak pada Strategi Penetapan Harga dan MarginPerusahaan harus memikirkan strategi harga baru, seperti menyerap sebagian kenaikan PPN untuk menjaga daya saing atau menawarkan paket promosi. Namun, hal ini dapat berimplikasi pada penurunan margin keuntungan, yang memengaruhi stabilitas finansial perusahaan dalam jangka panjang.
  5. Tantangan dalam Edukasi KonsumenDengan kenaikan harga, tenaga penjualan dihadapkan pada tugas untuk mengedukasi konsumen tentang keunggulan produk. Mereka perlu menekankan efisiensi, kualitas, atau manfaat yang sebanding dengan harga yang dibayarkan. Hal ini membutuhkan pemahaman mendalam terhadap kebutuhan pelanggan dan kemampuan komunikasi yang persuasif. Tenaga penjualan berada di garis depan menghadapi realitas baru ini. Mereka tidak hanya harus menjual produk atau jasa tetapi juga menjual nilai, manfaat jangka panjang, dan relevansi produk dalam kehidupan pelanggan. Kenaikan PPN 12% menjadi ujian kemampuan mereka untuk tetap relevan, kompetitif, dan adaptif di tengah perubahan.

IKUTI! Free Webinar Untuk Menjawab Tantangan dalam Edukasi Konsumen

ree

Jika Anda merasa tantangan ini memengaruhi cara Anda menjual atau ingin memahami bagaimana tetap kompetitif dalam menghadapi situasi ini, ikuti webinar kami yang akan membahas teknik menghadapi dampak kenaikan PPN 12%.

Daftar sekarang dan jadilah tenaga penjualan yang selalu siap menghadapi tantangan!

Link Pendaftaran : https://www.veltica.co.id/event-details/penjualan-tetap-kinclong-di-tengah-kenaikan-ppn-12-1