Background
Di banyak organisasi, percakapan penjualan gagal bukan karena produk atau layanan kurang bernilai, tetapi karena nilai tersebut tidak dikomunikasikan dengan jelas dan meyakinkan. Para tenaga penjualan seringkali memberikan terlalu banyak informasi, berfokus pada fitur daripada dampak, dan kesulitan menyusun pesan yang sesuai dengan pengambil keputusan. Pertemuan berakhir tanpa hasil yang jelas, peluang terhenti, dan prospek kehilangan minat—bukan karena penolakan, tetapi karena kurangnya kejelasan, relevansi, dan kepercayaan pada pesan yang disampaikan. Seiring waktu, hal ini menciptakan inefisiensi di seluruh saluran penjualan dan melemahkan kinerja konversi.