Background
Di banyak organisasi, perselisihan di tempat kerja dihindari atau ditangani secara emosional. Masalah dibiarkan tidak terucapkan, ketegangan menumpuk di bawah permukaan, dan kesalahpahaman kecil berkembang menjadi konflik yang lebih besar. Ketika konflik muncul, respons sering kali bersifat reaktif—berfokus pada memenangkan argumen daripada memulihkan kolaborasi.
Seiring waktu, konflik yang tidak terselesaikan merusak kepercayaan, menurunkan moral, dan mengurangi kinerja. Tim menjadi berhati-hati, komunikasi menyempit, dan para pemimpin menghabiskan waktu yang tidak proporsional untuk mengelola masalah interpersonal daripada mendorong hasil.