Background
Seiring organisasi semakin digital, risiko siber bukan lagi hanya masalah TI—melainkan risiko tata kelola dan bisnis. Komputasi awan, kerja jarak jauh, platform pihak ketiga, dan ekosistem digital memperluas permukaan serangan jauh melampaui infrastruktur tradisional. Namun di banyak organisasi, keamanan siber masih didekati sebagai fungsi teknis daripada tanggung jawab tata kelola.
Para eksekutif dan manajer sering berasumsi bahwa risiko siber “ditangani oleh TI,” sementara para pengambil keputusan kurang memiliki visibilitas terhadap paparan ancaman, efektivitas kontrol, dan kesiapan insiden. Ketidaksesuaian ini menyebabkan akuntabilitas yang terfragmentasi, pengawasan yang lemah, dan respons yang tertunda ketika insiden terjadi. Dalam peristiwa siber yang berdampak tinggi, masalah sebenarnya jarang hanya teknologi—tetapi tata kelola, peran, dan wewenang pengambilan keputusan yang tidak jelas.