Background
Alat Kecerdasan Buatan (AI) semakin mudah diakses di berbagai organisasi, namun penerapannya di tingkat individu seringkali masih dangkal dan tidak konsisten. Banyak karyawan menyadari keberadaan alat AI, tetapi tidak yakin bagaimana menggunakannya dengan aman, produktif, dan bertanggung jawab dalam pekerjaan sehari-hari mereka. Akibatnya, AI kurang dimanfaatkan, disalahgunakan, atau diperlakukan sebagai hal baru daripada sebagai pendukung kerja yang praktis.
Di banyak tim, hal ini menciptakan kesenjangan yang terlihat: para pemimpin mengharapkan peningkatan produktivitas dari AI, sementara karyawan merasa tidak yakin tentang di mana AI cocok dalam alur kerja mereka. Tanpa panduan yang jelas, penggunaan AI menjadi terfragmentasi, meningkatkan risiko etika dan data, dan gagal memberikan dampak yang berarti pada kualitas atau efisiensi kerja.