
Banyak organisasi masih mengukur keberhasilan pengembangan talenta dari jumlah jam pelatihan, jumlah peserta, atau skor kepuasan setelah kelas selesai. Namun pertanyaannya sederhana dan reflektif: apakah perilaku benar-benar berubah? Apakah kualitas keputusan meningkat? Apakah manajer menjadi lebih matang dalam mengelola timnya? Jika jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini masih belum konsisten, mungkin yang perlu kita evaluasi bukan lagi konten training-nya, melainkan pendekatan keseluruhannya. Training adalah aktivitas. Transformation adalah sistem.
Transformation dalam konteks talent development tidak terjadi dalam satu sesi kelas. Ia lahir dari ekosistem—sebuah integrasi antara capability development yang terstruktur, dialog reflektif melalui mentoring dan coaching, serta kesinambungan antara kebutuhan bisnis dan pertumbuhan individu. L&D dan HR memiliki peran strategis untuk menggeser paradigma ini: dari sekadar “menyelenggarakan program” menjadi “membangun arsitektur pengembangan talenta”. Arsitektur inilah yang memastikan setiap program tidak berdiri sendiri, tetapi saling menguatkan dalam perjalanan karier talenta.
Generasi Gen Z dan late millennials menuntut pendekatan yang lebih relevan dan personal. Mereka tidak hanya ingin belajar konsep, tetapi ingin memahami implikasinya pada peran mereka. Mereka ingin ruang bertanya, berdiskusi, dan mendapatkan umpan balik langsung dari praktisi yang pernah menghadapi dilema serupa. Tanpa ekosistem yang mendukung interaksi semacam ini, training cenderung berhenti pada level pengetahuan. Transformation baru terjadi ketika pembelajaran diikuti dengan refleksi, pendampingan, dan penguatan perilaku di tempat kerja.
Di sisi organisasi, tantangannya adalah menjaga konsistensi. Banyak perusahaan memulai dengan semangat besar, tetapi tidak memiliki sistem yang memastikan keberlanjutan. Program berjalan satu kali, lalu berhenti. Padahal transformation membutuhkan kesinambungan—mulai dari pemetaan kebutuhan kompetensi, desain in-house capability development yang kontekstual, hingga penguatan melalui mentoring dan coaching 1-on-1. Ketika semua elemen ini dirancang sebagai satu kesatuan, perusahaan tidak lagi sekadar “mengadakan pelatihan”, tetapi membangun kultur belajar yang berorientasi kinerja.
Refleksi penting bagi para pemimpin L&D dan HC/HR: apakah strategi pengembangan di organisasi Anda sudah terintegrasi dengan agenda bisnis jangka panjang? Apakah program yang Anda jalankan benar-benar mendukung kesiapan manajer dalam mengambil keputusan, memimpin tim, dan mengelola tekanan peran? Transformation menuntut keberanian untuk merancang ulang sistem—menghubungkan capability building dengan realitas operasional, dan menjadikan pengembangan talenta sebagai bagian dari strategi pertumbuhan perusahaan, bukan sekadar fungsi pendukung.
Jika saat ini organisasi Anda ingin bergerak dari training menuju transformation yang berkelanjutan, langkah pertama adalah membangun ekosistem in-house capability development yang terstruktur dan terintegrasi.
Bangun Ekosistem Pengembangan Talenta yang Berdampak Nyata
Eksplor kategori program Leadership & People Management dan Operational Excellence & Productivity di Veltica MasterClass untuk merancang In-House Capability Development yang selaras dengan strategi bisnis dan memperkuat kesiapan talenta Anda hari ini.