Veltica MasterClass

Karyawan Hebat Belum Tentu Pemimpin Berkualitas

Karyawan Hebat Belum Tentu Pemimpin Berkualitas

Pernahkah Anda mendengar tentang karyawan yang sangat produktif dan menunjukkan kinerja luar biasa, namun ketika dipromosikan ke posisi kepemimpinan, mereka justru kesulitan menjalankan tugasnya? Fenomena ini cukup sering terjadi di banyak organisasi, dan menjadi tantangan besar dalam pengelolaan SDM. Hal ini mengarah pada pertanyaan besar: Kenapa karyawan yang bagus belum tentu menjadi pemimpin yang berkualitas?

Dalam artikel Veltica Masterclass Ini, kita akan membahas mengapa keterampilan teknikal yang membuat seorang karyawan sukses tidak selalu sejalan dengan kemampuan kepemimpinan yang diperlukan untuk memimpin tim dengan efektif.

Kita juga akan mengungkapkan fakta dan riset terbaru mengenai hubungan antara performa individu dan kemampuan kepemimpinan. Di akhir artikel, kami juga akan berbagi solusi untuk membantu organisasi menciptakan pemimpin yang benar-benar berkualitas melalui program pelatihan dan pengembangan yang tepat.


Apa Itu Performa dan Apa Itu Kepemimpinan?

Performa Karyawan

Kinerja atau performa karyawan merujuk pada kemampuan seorang individu untuk memenuhi atau melampaui target dan ekspektasi yang ditetapkan. Dalam konteks organisasi, performa ini sering kali diukur menggunakan Key Performance Indicators (KPI), yang fokus pada pencapaian tugas atau hasil yang terkait dengan posisi tertentu. Misalnya, seorang karyawan di bagian penjualan diukur berdasarkan berapa banyak penjualan yang berhasil dicapai, atau seorang karyawan di bagian produksi diukur berdasarkan kualitas dan kuantitas output yang dihasilkan dalam periode tertentu.

Dalam lingkungan kerja, seorang karyawan yang berprestasi adalah seseorang yang memiliki kemampuan untuk menyelesaikan tugas dengan efisien, memenuhi tenggat waktu, dan menghasilkan hasil yang berkualitas. Mereka cenderung memiliki keterampilan teknis yang sangat terasah dalam bidang tertentu, yang memungkinkan mereka untuk berperforma tinggi dalam pekerjaannya.

Namun, kemampuan untuk bekerja dengan baik secara individu atau dalam tim kecil, dengan fokus pada eksekusi, tidak selalu mencerminkan kemampuan untuk menjadi pemimpin yang efektif.

Kepemimpinan

Di sisi lain, kepemimpinan adalah kemampuan untuk memotivasi, mempengaruhi, dan mengarahkan orang lain untuk bekerja menuju tujuan bersama. Seorang pemimpin harus memiliki keterampilan untuk berkomunikasi secara efektif, membangun kepercayaan, mengelola konflik, dan mengambil keputusan strategis yang mempengaruhi kelompok atau organisasi secara keseluruhan. Kepemimpinan bukan hanya tentang mencapai tujuan dalam pekerjaan, tetapi lebih kepada bagaimana membawa orang lain menuju tujuan tersebut melalui inspirasi, motivasi, dan pengelolaan yang bijak.

Perbedaan mendasar antara performa individu dan kepemimpinan adalah bahwa seorang pemimpin harus mampu melibatkan orang lain dalam pengambilan keputusan, memberikan arah strategis kepada tim, dan menciptakan lingkungan yang mendukung bagi orang-orang yang bekerja di bawah kepemimpinannya. Pemimpin yang baik mampu berkomunikasi dengan jelas, memberi motivasi, dan memahami cara untuk membimbing orang lain agar mencapai potensi terbaik mereka.


Kenapa Performa Tinggi Tidak Serta-Merta Menjadi Pemimpin yang Baik

A. Skill yang Dibutuhkan Berbeda

Karyawan yang berprestasi sering kali memiliki keterampilan teknis yang sangat kuat dan mampu melakukan tugas-tugasnya dengan sangat baik. Namun, keterampilan ini berbeda jauh dengan keterampilan yang dibutuhkan untuk memimpin orang lain. Seorang pemimpin tidak hanya bertanggung jawab atas hasil kerja tetapi juga harus dapat mengarahkan tim untuk mencapai hasil yang diinginkan. Ini berarti pemimpin perlu memiliki keterampilan seperti:

  • Strategic thinking: Pemimpin harus dapat melihat gambaran besar dan membuat keputusan yang mempengaruhi masa depan organisasi.
  • Kemampuan untuk memotivasi tim: Tidak cukup hanya memberi instruksi—pemimpin harus bisa menginspirasi orang lain untuk bekerja bersama mencapai tujuan bersama.
  • Kemampuan komunikasi yang luar biasa: Pemimpin harus dapat menyampaikan pesan dengan jelas dan memastikan setiap anggota tim memahami perannya.
  • Mengelola konflik dan perbedaan: Pemimpin harus mampu mengelola dinamika tim dan menyelesaikan konflik dengan cara yang konstruktif.

Karyawan yang berprestasi cenderung lebih fokus pada task-oriented behavior dan kurang berfokus pada aspek-aspek people management. Mereka sering kali kesulitan dalam hal delegasi tugas, memberikan feedback yang konstruktif, atau membangun hubungan yang mendalam dengan anggota tim.

B. Promosi Bukan Berarti Transformasi Skill

Banyak organisasi yang melakukan promosi berdasarkan kinerja individu, tanpa memberikan pelatihan kepemimpinan yang memadai. Promosi tanpa persiapan kepemimpinan adalah resep bencana. Ketika seorang karyawan dipromosikan ke posisi manajerial, mereka diharapkan untuk melakukan lebih dari sekadar mengelola hasil kerja. Mereka harus mengelola orang, yang melibatkan komunikasi efektif, pengambilan keputusan, dan pengelolaan sumber daya manusia.

Sangat penting untuk memahami bahwa promosi tidak otomatis mengubah skill seseorang. Tanpa pelatihan dan bimbingan yang tepat, seorang karyawan yang luar biasa dalam pekerjaan teknis tidak akan otomatis tahu bagaimana memimpin tim secara efektif.

C. Peter & Dilbert Principle

Fenomena ini dijelaskan dengan dua teori klasik: Peter Principle dan Dilbert Principle.

Peter Principle menyatakan bahwa “setiap orang dipromosikan hingga mencapai tingkat ketidakmampuannya”. Artinya, seseorang yang sangat baik dalam pekerjaannya bisa saja dipromosikan ke posisi manajerial, namun pada akhirnya mereka akan menghadapi tantangan besar karena mereka tidak memiliki keterampilan yang diperlukan untuk posisi tersebut.

Dilbert Principle menggambarkan fenomena serupa, namun dengan cara yang lebih satir. Prinsip ini menyatakan bahwa karyawan yang tidak mampu melakukan tugas mereka dengan baik di posisi teknis seringkali dipromosikan ke posisi manajerial karena mereka “kurang berguna” di posisi sebelumnya. Sementara ini lebih bersifat humor, fenomena ini seringkali terlihat dalam banyak organisasi, di mana orang yang kurang efektif di level teknis dipromosikan ke posisi yang tidak memerlukan keterampilan teknis.

D. Emotional Intelligence (EI) Penting

Emotional Intelligence (EI) adalah faktor penting yang memengaruhi efektivitas kepemimpinan. EI mencakup kesadaran diri, pengaturan emosi, empati, dan keterampilan sosial yang memungkinkan seorang pemimpin untuk mengelola hubungan interpersonal secara efektif. Tanpa EI yang baik, pemimpin mungkin kesulitan dalam hal:

  • Mengelola stres dan tekanan kerja.
  • Menghadapi konflik dalam tim.
  • Memberikan umpan balik yang membangun.

Seorang karyawan yang memiliki performa tinggi mungkin sangat ahli dalam tugas teknisnya, tetapi tanpa kemampuan EI yang kuat, mereka mungkin tidak dapat mengelola tim dengan baik atau menginspirasi orang lain untuk bekerja lebih keras.


Data & Riset yang Mendukung Fenomena Ini

Statistik Utama

Riset menunjukkan bahwa 82% manajer tidak menerima pelatihan kepemimpinan yang memadai sebelum dipromosikan ke posisi manajerial. Menurut data dari Cake.com, pelatihan kepemimpinan sering kali terabaikan, yang menyebabkan banyak organisasi gagal mengembangkan pemimpin yang efektif.

Selain itu, 1 dari 10 orang diperkirakan memiliki bakat alami untuk menjadi pemimpin yang baik, seperti yang dilaporkan oleh Cake.com. Angka ini menunjukkan bahwa kepemimpinan adalah keterampilan yang bisa dipelajari dan dikembangkan melalui pelatihan dan pengalaman, bukan sesuatu yang otomatis dimiliki oleh setiap orang yang berprestasi.

Temuan Riset

Riset yang dilakukan oleh Chief Executive mengungkapkan bahwa meskipun seorang karyawan sangat baik dalam pekerjaan teknis, mereka sering kali kesulitan dalam hal soft skills yang penting untuk kepemimpinan. Misalnya, banyak pemimpin yang tidak dapat memberikan umpan balik yang konstruktif atau mengelola dinamika tim secara efektif, yang akhirnya berdampak buruk pada kinerja tim secara keseluruhan.

Selain itu, studi yang diterbitkan oleh ResearchGate menunjukkan bahwa kepemimpinan yang buruk dapat mengurangi produktivitas tim, memperburuk motivasi, dan meningkatkan turnover karyawan. Ini menegaskan pentingnya mempersiapkan pemimpin yang kompeten melalui pelatihan yang tepat.


Karakteristik Pemimpin Berkualitas yang Tidak Sama dengan Karyawan Hebat

Leadership Traits vs Performance Traits

Untuk memahami mengapa seorang karyawan yang berprestasi tidak selalu menjadi pemimpin yang hebat, kita perlu membedakan dua kategori penting dalam dunia kerja: Leadership Traits dan Performance Traits. Meskipun keduanya sama-sama berhubungan dengan pencapaian sukses di dunia profesional, keduanya mencakup keterampilan dan sifat yang sangat berbeda.

Leadership Traits (Karakteristik Kepemimpinan)

Leadership traits merujuk pada kemampuan pribadi dan sifat internal yang memungkinkan seseorang untuk memimpin, menginspirasi, dan memotivasi orang lain. Pemimpin yang efektif tidak hanya berfokus pada hasil individu, tetapi juga mampu membawa tim untuk bekerja menuju tujuan bersama. Beberapa karakteristik utama dari pemimpin yang sukses antara lain:

  • Visi yang Jelas: Pemimpin yang baik memiliki kemampuan untuk melihat gambaran besar dan dapat menyampaikan visi tersebut kepada timnya. Mereka tahu ke mana tujuan organisasi atau tim mereka harus bergerak dan dapat menginspirasi orang lain untuk berkontribusi dalam mencapai tujuan tersebut.
  • Kemampuan Komunikasi yang Luar Biasa: Pemimpin yang efektif harus mampu berkomunikasi dengan jelas dan mendengarkan tim. Mereka tidak hanya memberi arahan, tetapi juga mendengarkan masukan, kritik, dan ide-ide dari anggota tim mereka untuk memastikan bahwa setiap orang merasa didengar dan dihargai.
  • Pengambilan Keputusan yang Strategis: Kepemimpinan yang baik memerlukan kemampuan untuk membuat keputusan yang bijaksana, yang tidak hanya menguntungkan tim dalam jangka pendek tetapi juga membawa dampak positif jangka panjang. Pemimpin harus mampu membuat pilihan yang mempertimbangkan kebutuhan tim, tujuan organisasi, serta tantangan yang ada.
  • Emotional Intelligence (EI): Kemampuan untuk mengenali, mengelola, dan memanfaatkan emosi sendiri dan orang lain adalah keterampilan yang krusial dalam kepemimpinan. Pemimpin yang memiliki emotional intelligence dapat mengelola stres, menyelesaikan konflik, dan membangun hubungan positif dalam tim.
  • Kemampuan untuk Mengelola Konflik: Pemimpin yang baik mampu menghadapi dan menyelesaikan konflik dalam tim dengan cara yang konstruktif. Konflik tak terhindarkan dalam organisasi, dan kemampuan untuk mengelola konflik dengan bijaksana sangat menentukan keberhasilan kepemimpinan.
  • Kemampuan untuk Mendelegasikan: Seorang pemimpin tidak bisa melakukan semua hal sendiri. Mereka harus mampu mendelegasikan tugas dan memberikan tanggung jawab kepada orang lain dalam tim. Pemimpin yang hebat tahu bagaimana memberi kepercayaan kepada anggota tim dan memastikan bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk berkembang.

Performance Traits (Karakteristik Performa)

Sementara leadership traits berfokus pada kemampuan memimpin dan menginspirasi orang lain, performance traits lebih terkait dengan kemampuan individu untuk menyelesaikan tugas tertentu secara efisien dan efektif. Ini adalah keterampilan teknis dan karakteristik yang membuat seseorang berhasil dalam pekerjaan mereka, terutama di peran yang lebih fokus pada eksekusi. Beberapa contoh performance traits yang dapat ditemukan pada karyawan berprestasi antara lain:

  • Kemampuan Teknis yang Tinggi: Karyawan yang berprestasi biasanya memiliki keahlian khusus yang sangat baik dalam bidangnya. Mereka mampu mengatasi tantangan teknis yang kompleks dengan solusi yang efisien dan tepat.
  • Disiplin dan Kemandirian: Karyawan yang produktif cenderung memiliki kemampuan untuk bekerja secara mandiri dan mengikuti aturan serta prosedur yang telah ditetapkan. Mereka tidak memerlukan banyak pengawasan untuk menyelesaikan pekerjaan mereka.
  • Fokus pada Hasil: Karyawan berprestasi berfokus pada pencapaian tujuan dan hasil. Mereka memiliki orientasi yang kuat untuk mencapai target yang telah ditentukan, seringkali dengan pendekatan berbasis data dan efisiensi.
  • Kemampuan untuk Bekerja di Bawah Tekanan: Karyawan yang sukses dalam peran mereka sering kali mampu mengatasi tekanan dan bekerja dengan efektif meskipun menghadapi tenggat waktu yang ketat atau situasi yang penuh tantangan.
  • Kemampuan Organisasi dan Manajemen Waktu: Karyawan yang berprestasi biasanya memiliki keterampilan manajemen waktu yang sangat baik, mampu mengorganisasi pekerjaan mereka dengan efisien dan memastikan bahwa semua tugas selesai sesuai jadwal.
  • Kemampuan untuk Menyelesaikan Masalah dengan Cepat: Karyawan yang unggul sering kali sangat terampil dalam menyelesaikan masalah. Mereka memiliki pendekatan yang praktis dan langsung terhadap masalah yang muncul dalam pekerjaan sehari-hari, dan dapat menemukan solusi yang cepat dan efektif.

Perbedaan Kunci antara Leadership Traits dan Performance Traits

Meskipun keduanya sangat penting dalam dunia profesional, leadership traits dan performance traits sangat berbeda dalam tujuan dan aplikasinya. Performance traits lebih fokus pada keberhasilan individu dalam menyelesaikan tugas, sementara leadership traits lebih berfokus pada bagaimana membimbing, memotivasi, dan mengarahkan orang lain agar bekerja bersama untuk mencapai tujuan tim.

Seorang karyawan berprestasi mungkin sangat terampil dalam memenuhi KPI individu dan menyelesaikan tugas teknis dengan baik, tetapi hal itu tidak otomatis membuatnya menjadi pemimpin yang hebat. Untuk menjadi pemimpin yang efektif, seseorang harus memiliki kemampuan untuk memotivasi orang lain, membangun hubungan yang saling percaya, dan membuat keputusan strategis yang mempertimbangkan kesejahteraan tim secara keseluruhan.

Sementara itu, seorang karyawan yang berprestasi lebih terfokus pada hasil individu dan tugas harian, tanpa perlu memikirkan gambaran besar atau pengelolaan tim.


Studi Kasus: Ketika Karyawan Unggul Jadi Leader, Hasilnya?

Misalkan kita memiliki sebuah perusahaan teknologi besar yang telah lama dikenal karena inovasinya di bidang perangkat lunak. Perusahaan ini memiliki seorang insinyur perangkat lunak yang sangat berprestasi, sebut saja Andi, yang telah bekerja selama 8 tahun dan telah menghasilkan sejumlah produk inovatif yang sangat diapresiasi oleh perusahaan. Selama bertahun-tahun, Andi dikenal sebagai salah satu karyawan dengan performa terbaik, selalu memenuhi atau melampaui target, dan memiliki keahlian teknis yang luar biasa.

Melihat kinerja Andi yang sangat baik, manajemen perusahaan memutuskan untuk mempertemukannya dengan peran manajerial dan mempromosikannya menjadi Manajer Tim Pengembangan Perangkat Lunak. Andi dipilih karena pengalamannya yang mendalam dalam teknologi dan pemahamannya yang baik tentang bagaimana proyek-proyek teknis harus dijalankan.

Namun, setelah beberapa bulan menjabat, perusahaan mulai melihat tanda-tanda masalah. Kinerja tim di bawah Andi mulai menurun, dan ada ketegangan antara Andi dengan anggota timnya. Masalah yang awalnya tampak kecil segera berkembang menjadi hambatan yang signifikan bagi produktivitas tim dan perusahaan.

Masalah Utama yang Dihadapi Andi sebagai Pemimpin

1. Kesulitan dalam Mengelola Tim dan Delegasi

Sebagai seorang insinyur yang sangat terampil, Andi terbiasa mengerjakan tugas-tugas teknisnya secara langsung. Namun, sebagai pemimpin, Andi harus memimpin dan mengarahkan orang lain untuk melakukan tugas-tugas tersebut. Andi kesulitan dalam mendelegasikan pekerjaan, karena dia merasa lebih nyaman langsung terlibat dalam pekerjaan teknis. Ini menyebabkan bottleneck dalam proyek, karena Andi berusaha melakukan segalanya sendiri, sementara timnya merasa kurang terlibat.

Andi juga kesulitan dalam menyusun prioritas untuk tim dan memastikan bahwa proyek berjalan dengan lancar. Dia cenderung memberikan instruksi yang terlalu rinci kepada tim, yang mengarah pada ketergantungan berlebihan pada dirinya dan kehilangan otonomi bagi anggota tim untuk bekerja secara mandiri. Hasilnya, banyak tugas yang tertunda atau terhambat karena Andi tidak dapat memberi kebebasan cukup bagi tim untuk bergerak maju.

2. Kurangnya Keterampilan Komunikasi dan Motivasi

Meskipun Andi sangat ahli dalam menyelesaikan masalah teknis, dia kesulitan dalam berkomunikasi dengan tim mengenai tujuan dan arah yang lebih besar dari proyek. Sebagai seorang insinyur, Andi terbiasa berpikir logis dan teknis, tetapi saat berkomunikasi dengan anggota tim yang lebih beragam latar belakang dan keterampilannya, Andi gagal untuk memberikan motivasi dan visi yang jelas. Tim merasa kehilangan arah dan tidak memahami sepenuhnya kenapa proyek yang sedang mereka kerjakan itu penting untuk keberhasilan perusahaan.

Andi juga kurang peka terhadap kebutuhan emosional tim. Dia lebih sering berfokus pada aspek teknis daripada mendengarkan masukan dan kekhawatiran anggota tim. Sebagai akibatnya, hubungan dengan tim menjadi tegang dan kepercayaan diri anggota tim mulai menurun. Beberapa anggota tim melaporkan bahwa mereka merasa kurang dihargai dan tidak mendapat cukup dukungan dari Andi, yang mengarah pada penurunan motivasi dan tingginya tingkat stres di antara anggota tim.

3. Kesulitan Mengelola Konflik dan Dinamika Tim

Seiring berjalannya waktu, Andi mulai menghadapi konflik internal dalam tim. Beberapa anggota tim merasa bahwa ada ketidakjelasan dalam peran mereka, sementara yang lain merasa bahwa Andi tidak memberikan cukup ruang untuk berbicara dan menyampaikan ide-ide mereka. Sebagai seorang pemimpin, Andi tidak tahu bagaimana cara mengelola konflik ini dengan cara yang konstruktif. Dia sering kali menghindari konflik dan berharap masalah tersebut akan selesai dengan sendirinya, padahal konflik yang tidak terselesaikan justru semakin memburuk.

Ketika masalah mulai mengemuka, Andi merasa cemas dan tidak memiliki keterampilan untuk menyelesaikan masalah interpersonal yang muncul di dalam tim. Alih-alih menyelesaikan konflik dengan cara yang membangun, Andi justru sering kali merasa tertekan dan berusaha menghindari percakapan yang bisa mengarah pada konfrontasi. Ini menyebabkan semakin banyak ketegangan tersembunyi dalam tim, yang akhirnya mempengaruhi kinerja dan produktivitas.

4. Pengambilan Keputusan yang Kurang Tepat

Sebagai pemimpin, Andi juga harus membuat keputusan strategis yang mempengaruhi seluruh tim dan proyek. Namun, Andi cenderung lebih mengutamakan keputusan berbasis data teknis dan pendekatan pragmatis, daripada mempertimbangkan aspek kebijakan tim, dampak jangka panjang, atau hubungan interpersonal dalam tim. Ini mengarah pada keputusan-keputusan yang kurang holistik dan kadang-kadang malah merugikan tim dalam jangka panjang.

Salah satu contoh adalah ketika Andi memutuskan untuk mengejar tujuan proyek dengan cara yang terlalu ambisius tanpa terlebih dahulu memperhitungkan kapasitas tim dan waktu yang realistis. Hal ini menyebabkan keterlambatan dalam jadwal dan penurunan kualitas kerja, karena anggota tim merasa tertekan dan tidak diberi waktu yang cukup untuk menyelesaikan pekerjaan mereka dengan baik.

Dampak Terhadap Tim dan Perusahaan

Setelah beberapa bulan, kinerja tim Andi menurun secara signifikan. Ada penurunan motivasi, tingginya tingkat turnover, dan beberapa anggota tim merasa bahwa mereka tidak lagi mendapatkan dukungan yang cukup dari pemimpinnya. Beberapa anggota tim memilih untuk mencari peluang di luar perusahaan, sementara yang lain merasa bahwa kualitas kerja mereka menurun karena mereka tidak dapat berkembang dalam lingkungan yang kurang mendukung.

Dampak jangka panjang bagi perusahaan pun terasa. Proyek-proyek yang dikelola oleh Andi mulai terhambat, keterlambatan produksi terjadi karena masalah komunikasi, dan kerjasama antar tim terganggu akibat ketidakmampuan Andi dalam mengelola dinamika tim. Sebagai akibatnya, perusahaan harus menginvestasikan waktu dan sumber daya yang lebih banyak untuk memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan.

Kasus ini mengilustrasikan bahwa promosi berdasarkan performa individu yang luar biasa tidak selalu menghasilkan pemimpin yang efektif. Keterampilan teknis yang menjadikan seseorang berprestasi di posisi mereka tidak otomatis dapat diterjemahkan menjadi keterampilan kepemimpinan. Dalam banyak kasus, keterampilan kepemimpinan membutuhkan pelatihan khusus, pengalaman manajerial, dan pengembangan diri yang berkelanjutan, yang tidak dimiliki oleh karyawan hanya karena kinerja mereka yang baik.


Solusi: Training & Development yang Tepat untuk Leadership

Mengapa Pelatihan Kepemimpinan Itu Penting?

Pelatihan kepemimpinan merupakan investasi yang sangat penting untuk mengembangkan pemimpin yang berkualitas. Tanpa pelatihan yang tepat, seorang karyawan yang terampil dalam pekerjaan teknis tidak akan tahu bagaimana cara membangun hubungan yang efektif, memimpin tim dengan cara yang produktif, dan membuat keputusan strategis.

Skill Development yang Harus Difokuskan

Keterampilan yang harus dikembangkan untuk menjadi pemimpin yang sukses meliputi:

  • Emotional Intelligence (EI)
  • Komunikasi efektif dan feedback konstruktif
  • Strategic thinking
  • Pengelolaan konflik
  • Motivasi tim dan manajemen kinerja

Veltica Masterclass:
Jawaban untuk Tantangan Leadership di Perusahaanmu

Jika perusahaan Anda ingin membangun pipeline pemimpin yang efektif, Veltica Masterclass adalah solusi yang tepat. Kami menawarkan kursus kepemimpinan yang dirancang untuk membantu individu mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan untuk menjadi pemimpin yang berkualitas. Kami fokus pada keterampilan praktis berbasis riset yang dapat langsung diterapkan dalam dunia kerja.

Daftar sekarang di Veltica Masterclass dan mulai perjalanan Anda untuk menjadi pemimpin yang memotivasi, menginspirasi, dan membawa tim menuju kesuksesan.

Karyawan yang luar biasa bukanlah jaminan menjadi pemimpin yang hebat. Kepemimpinan adalah kompetensi yang berbeda dan memerlukan pelatihan serta pengembangan keterampilan yang sesuai.

Untuk itu, perusahaan yang ingin mengoptimalkan kinerja dan membangun masa depan yang sukses harus menginvestasikan waktu dan sumber daya pada pengembangan kepemimpinan. Veltica Masterclass adalah pilihan yang tepat untuk membantu Anda membangun generasi pemimpin yang berkualitas.