Background
Kecerdasan Buatan (AI) semakin terintegrasi dalam proses bisnis sehari-hari—mendukung pengambilan keputusan, otomatisasi, analitik, interaksi pelanggan, dan efisiensi operasional. Namun, di banyak organisasi, adopsi AI tumbuh lebih cepat daripada kesiapan tata kelola. Alat AI digunakan oleh karyawan, dikembangkan secara internal, atau diterapkan melalui vendor tanpa pengawasan, akuntabilitas, atau kesadaran risiko yang jelas.
Akibatnya, organisasi menghadapi risiko baru seperti kebocoran data, bias, masalah penjelasan, paparan regulasi, dan kerusakan reputasi. Manajer dan tim mungkin bergantung pada hasil AI tanpa sepenuhnya memahami keterbatasan, implikasi etis, atau tanggung jawab hukum. Tanpa kerangka kerja tata kelola AI yang terstruktur, organisasi berisiko kehilangan kendali atas bagaimana AI memengaruhi keputusan, pelanggan, dan kewajiban kepatuhan.