Background
Banyak organisasi memiliki KPI dan OKR yang didefinisikan secara formal, namun aktivitas sehari-hari seringkali tetap terputus dari target tersebut. Tim tetap sibuk, rapat diadakan, laporan dibuat—tetapi pergerakan kinerja minimal. Karyawan kesulitan melihat bagaimana pekerjaan mereka berkontribusi pada tujuan organisasi, sementara manajer kesulitan menegakkan akuntabilitas di luar siklus pelaporan.
Ketidakselarasan ini menciptakan frustrasi di kedua sisi. Strategi terasa jauh dari eksekusi, dan manajemen kinerja menjadi latihan kepatuhan daripada alat untuk mendorong hasil.