Background
Banyak organisasi telah berinvestasi dalam berbagai alat digital untuk mendukung operasional sehari-hari—platform manajemen proyek, alat kolaborasi, sistem alur kerja, dan aplikasi komunikasi. Namun, alih-alih meningkatkan efisiensi, alat-alat ini seringkali malah menciptakan hambatan baru. Tim menggunakan platform yang berbeda secara tidak konsisten, koordinasi menjadi terfragmentasi, dan pekerjaan manual tetap berlanjut meskipun tersedia teknologi digital.
Dalam praktiknya, inefisiensi operasional jarang disebabkan oleh kurangnya alat, tetapi lebih karena prinsip penggunaan yang tidak jelas dan integrasi yang lemah ke dalam rutinitas harian. Karyawan menghabiskan waktu untuk beralih platform, menduplikasi pekerjaan, dan menyelesaikan ketidaksesuaian daripada menjalankan tugas inti. Seiring waktu, hal ini mengikis produktivitas, memperlambat pengambilan keputusan, dan menciptakan frustrasi di seluruh tim.