Background
Di banyak organisasi, KPI dan dasbor sudah ada, namun fungsinya lebih sebagai alat pelaporan daripada instrumen pengambilan keputusan. Angka-angka ditinjau secara teratur, tetapi tim sering kesulitan menafsirkan apa yang sebenarnya ditunjukkan oleh data, metrik mana yang perlu diperhatikan, dan bagaimana kesenjangan kinerja harus diatasi. Akibatnya, dasbor menjadi tampilan pasif daripada pendorong tindakan.
Manajer dan supervisor mungkin melacak banyak indikator tanpa pemahaman yang jelas tentang hubungan sebab-akibat atau sinyal prioritas. Seiring waktu, hal ini menyebabkan upaya yang tidak selaras, tindakan korektif yang tertunda, dan frustrasi ketika diskusi kinerja gagal diterjemahkan menjadi peningkatan yang nyata.