Background
Di banyak organisasi, laporan laba rugi diperlakukan hanya sebagai dokumen keuangan—ditinjau secara berkala, tetapi jarang digunakan sebagai alat pengambilan keputusan sehari-hari. Manajer menerima angka laba rugi setelah hasil tercapai, sehingga menciptakan kesenjangan antara tindakan operasional dan hasil keuangan.
Akibatnya, tim mungkin mencapai target aktivitas sementara profitabilitas melemah. Pembengkakan biaya, erosi margin, dan inefisiensi sering kali ditemukan terlambat, ketika tindakan korektif menjadi lebih sulit dan mahal.