
Skill kerja pada dunia hari ini tidak sedang menuju perubahan sesaat, melainkan memasuki fase baru yang ditandai oleh ketidakpastian permanen. Teknologi berkembang lebih cepat dari kurikulum pendidikan. Kebutuhan industri berubah lebih cepat dari deskripsi pekerjaan. Cara bekerja pun tidak lagi seragam.
Bagi fresh graduate dan profesional muda, ini sering terasa membingungkan. Skill apa yang harus dipelajari? Mana yang akan bertahan? Mana yang akan usang?
Untuk menjawabnya, pada artikel Veltica Masterclass ini, kita perlu memahami tren besar dunia kerja terlebih dahulu. Skill yang dibutuhkan di 2026 bukan muncul secara acak ia adalah respons langsung terhadap perubahan ini.
Tren Utama Dunia Kerja Indonesia Menuju 2026
1. AI dan Automasi: Bukan Menggantikan Manusia, Tapi Mengubah Perannya

Salah satu skill kerja yang dicari adalah pemahaman tentang Artificial Intelligence, hal ini sering dipersepsikan sebagai ancaman: menggantikan pekerjaan, memangkas peran manusia, dan mempersempit peluang karier. Namun riset global menunjukkan gambaran yang lebih kompleks. World Economic Forum (Future of Jobs Report) memproyeksikan bahwa meskipun jutaan pekerjaan akan terdampak otomatisasi, jumlah peran baru yang muncul justru hampir seimbang—bahkan lebih tinggi di beberapa sektor.
Yang berubah bukan sekadar jumlah pekerjaan, melainkan karakter pekerjaan itu sendiri. Tugas-tugas rutin, administratif, dan berulang akan semakin dikerjakan mesin. Sebaliknya, manusia dibutuhkan untuk pekerjaan yang melibatkan penilaian, interpretasi, empati, dan pengambilan keputusan di situasi ambigu. McKinsey menegaskan bahwa automasi justru meningkatkan permintaan terhadap higher cognitive skills seperti analytical thinking dan complex problem solving.
Di Indonesia, adopsi AI mulai masuk ke sektor perbankan, telekomunikasi, ritel, dan layanan publik. Artinya, profesional muda tidak perlu takut “tersingkir”, tetapi perlu memahami bagaimana bekerja berdampingan dengan AI. Kesadaran ini menjadi fondasi skill kerja 2026.
Profesional yang relevan adalah mereka yang:
– Bisa membaca data sebagai cerita, bukan sekadar angka
– Mengerti bagaimana AI menghasilkan rekomendasi
– Mampu menilai kapan data cukup, dan kapan intuisi diperlukan
2. Digitalisasi: Dari Keunggulan Tambahan Menjadi Infrastruktur Dasar
Beberapa tahun lalu, kemampuan digital dianggap nilai tambah. Di 2026, ia menjadi syarat minimum. Hampir semua organisasi—besar maupun kecil—beroperasi di atas sistem digital: ERP, CRM, dashboard data, dan platform kolaborasi.
Namun, riset LinkedIn menunjukkan kesenjangan yang menarik: banyak tenaga kerja “menggunakan” teknologi, tetapi belum tentu memahami cara kerjanya. Inilah yang menyebabkan produktivitas tidak selalu meningkat seiring digitalisasi. Teknologi hadir, tetapi cara berpikir manusianya masih analog.
Di Indonesia, tantangan ini diperkuat oleh fakta bahwa kebutuhan talenta digital tumbuh lebih cepat daripada suplai. Kominfo dan BPS sama-sama menyoroti digital skill gap sebagai isu strategis nasional. Maka, digital literacy bukan lagi soal aplikasi tertentu, melainkan kenyamanan bekerja dalam sistem digital yang kompleks.
Mereka yang tidak nyaman bekerja dalam sistem digital akan tertinggal, bukan karena kurang pintar, tetapi karena kurang adaptif.
3. Cara Kerja Hybrid & Remote

Pandemi mengubah cara kerja secara permanen. Remote dan hybrid bukan lagi pengecualian, tetapi bagian dari desain organisasi modern. Hal ini membawa implikasi besar terhadap skill yang dibutuhkan.
Ketika kehadiran fisik tidak lagi menjadi indikator kinerja, perusahaan mulai menilai hal lain: kualitas output, kejelasan komunikasi, dan kemampuan mengelola diri sendiri. LinkedIn mencatat bahwa perusahaan semakin menghargai kandidat dengan self-management dan collaboration skill yang kuat.
Bagi profesional muda, ini berarti satu hal penting: kemandirian menjadi mata uang baru. Bukan hanya bisa bekerja sendiri, tetapi mampu mengatur waktu, energi, dan fokus tanpa pengawasan ketat.
4. Ekonomi Hijau & Sustainability
Isu keberlanjutan sering terdengar normatif. Namun di 2026, sustainability telah masuk ke inti keputusan bisnis. World Economic Forum memasukkan environmental stewardship sebagai salah satu skill dengan pertumbuhan tercepat secara global.
Di Indonesia, arah kebijakan energi, investasi, dan regulasi semakin mengarah ke ekonomi hijau. Perusahaan mulai mencari talenta yang mampu menyeimbangkan pertumbuhan bisnis dengan dampak jangka panjang baik lingkungan maupun sosial.
Green skill di sini tidak selalu teknis. Bahkan profesional di finance, HR, atau operations perlu memahami konsekuensi keberlanjutan dari keputusan kerja mereka. Ini mengubah cara perusahaan menilai kompetensi.
Skill Kerja yang Dibutuhkan di Indonesia Tahun 2026
1. Data Literacy & AI Awareness
Memahami, bukan sekadar menggunakan data
Data kini hadir di hampir semua fungsi kerja. Namun memiliki data tidak otomatis menghasilkan keputusan yang baik. Profesional yang relevan adalah mereka yang mampu membaca konteks di balik angka.
WEF menempatkan AI and Big Data sebagai skill kerja dengan pertumbuhan tercepat secara global. Namun, AI awareness di sini bukan berarti semua orang harus menjadi data scientist. Yang dibutuhkan adalah kemampuan memahami bagaimana AI bekerja, apa biasnya, dan kapan hasilnya perlu dipertanyakan.
Di dunia kerja 2026, data literacy adalah kemampuan berpikir berbasis bukti, bukan sekadar kemampuan teknis.
Sangat penting untuk para profesional di tahun 2026 untuk :
– Bisa membaca data sebagai cerita, bukan sekadar angka
– Mengerti bagaimana AI menghasilkan rekomendasi
– Mampu menilai kapan data cukup, dan kapan intuisi diperlukan
AI awareness bukan tentang menjadi teknolog, melainkan menjadi pengambil keputusan yang sadar teknologi.
2. Digital & Technological Literacy

Digital literacy berbeda dengan sekadar “bisa pakai aplikasi”. Ia mencakup kemampuan memahami alur kerja digital, dokumentasi, dan integrasi sistem.
LinkedIn mencatat bahwa technological literacy kini muncul lintas industri, bahkan di peran non-IT. Ini karena hampir semua pekerjaan kini bersinggungan dengan sistem digital.
Profesional muda yang unggul adalah mereka yang tidak frustrasi menghadapi teknologi, tetapi menggunakannya sebagai alat berpikir dan bekerja.
3. Cybersecurity Awareness
Etika dan tanggung jawab di dunia digital
Peningkatan insiden kebocoran data di Indonesia menunjukkan bahwa cybersecurity bukan hanya masalah teknologi, tetapi juga perilaku manusia. Banyak pelanggaran terjadi karena kelalaian, bukan serangan canggih.
Perusahaan kini menilai kesadaran keamanan sebagai bagian dari profesionalisme dan skill kerja yang dibutuhkan. Bahkan non-IT role diharapkan memahami prinsip dasar perlindungan data dan privasi.
Cybersecurity awareness adalah tanda kedewasaan digital, bukan paranoia.
Profesional yang dipercaya adalah mereka yang:
- Menjaga kerahasiaan informasi
- Memahami risiko digital
- Bertindak etis dalam penggunaan data
Ini bukan skill teknis, tetapi sikap profesional.
4. Project & Process Management
Di tengah kompleksitas organisasi modern, kemampuan mengeksekusi menjadi sangat bernilai. McKinsey menyoroti bahwa kegagalan transformasi sering kali bukan karena strategi, tetapi karena eksekusi yang lemah.
Project management di 2026 bukan hanya metodologi formal, melainkan cara berpikir: mengelola prioritas, waktu, dan kolaborasi.
Profesional yang mampu menjaga ritme kerja dan menyelesaikan proyek secara konsisten akan selalu dicari.
5. Sustainability & Green Skills
Green skill sering disalahpahami sebagai keahlian teknis tertentu. Padahal, inti dari sustainability adalah cara berpikir sistemik.
WEF menegaskan bahwa perusahaan membutuhkan talenta yang mampu mengintegrasikan pertimbangan lingkungan dan sosial ke dalam keputusan bisnis sehari-hari. Ini relevan di hampir semua fungsi.
Di 2026, profesional yang memahami dampak jangka panjang akan lebih dipercaya dalam peran strategis.
Soft Skill: Keunggulan Manusia di Era Mesin
1. Critical Thinking & Complex Problem Solving
AI memberikan jawaban cepat, tetapi tidak selalu tepat. Di sinilah manusia tetap memegang kendali.
McKinsey menunjukkan bahwa permintaan terhadap kemampuan berpikir kritis meningkat seiring automasi. Dunia kerja dipenuhi masalah yang tidak punya jawaban baku.
Kemampuan menyusun pertanyaan yang tepat sering kali lebih penting daripada jawaban cepat.
2. Adaptability & Learning Agility
Skill akan usang. Peran akan berubah. Learning agility menjadi penentu keberlangsungan karier.
WEF mencatat bahwa resilience and flexibility termasuk skill kerja dengan peningkatan paling signifikan. Profesional yang defensif terhadap perubahan akan tertinggal.
Belajar ulang bukan tanda kegagalan, tetapi strategi bertahan.
Skill akan usang. Peran akan berubah. Yang bertahan adalah mereka yang:
- Cepat memahami konteks baru
- Mau belajar ulang
- Tidak defensif terhadap perubahan
3. Communication & Collaboration

Kerja lintas fungsi dan jarak membutuhkan komunikasi yang dewasa dan kontekstual.
LinkedIn menemukan bahwa komunikasi dan kolaborasi tetap menjadi skill paling dicari lintas negara dan industri.
Profesional yang mampu membangun kepercayaan melalui komunikasi akan lebih cepat berkembang.
Komunikasi yang dibutuhkan di 2026 bukan hanya bicara lancar, tetapi:
- Menyampaikan ide secara kontekstual
- Mendengarkan dengan empati
- Membangun kepercayaan dalam kolaborasi
Mereka yang mampu berkolaborasi dengan baik sering kali melaju lebih cepat—bukan karena paling pintar, tetapi karena paling bisa bekerja dengan orang lain.
4. Creativity & Innovative Thinking
Nilai manusia yang paling sulit digantikan
Kreativitas bukan sekadar ide besar, tetapi kemampuan melihat peluang di tengah keterbatasan.
WEF menempatkan creative thinking sebagai skill inti masa depan karena sulit direplikasi mesin.
Inovasi sering lahir dari cara berpikir yang berani berbeda.
5. Leadership & Self-Management
Struktur kerja makin datar. Banyak profesional muda harus memimpin dirinya sendiri sebelum memimpin orang lain.
Leadership di 2026 lebih tentang akuntabilitas, konsistensi, dan kejelasan arah.
Profesional yang bisa dipercaya mengelola dirinya sendiri akan lebih siap memimpin tim.
Skill kerja 2026 bukan sekadar daftar yang harus dikuasai, tetapi kompas pengembangan diri yang akan membantu Anda bertumbuh di dunia kerja yang terus berubah. Yang paling penting bukan seberapa banyak skill yang Anda kuasai hari ini, tetapi seberapa siap Anda untuk beradaptasi, belajar, dan berkembang seiring dengan perubahan zaman.
Saat dunia kerja semakin kompleks, kemampuan untuk berpikir kritis, berkolaborasi lintas generasi dan fungsi, serta kemampuan untuk terus belajar akan menjadi kunci kesuksesan. Dengan memahami tren yang sedang berkembang, seperti pengaruh AI, transformasi digital, dan kebutuhan untuk keberlanjutan, Anda bisa menyiapkan diri untuk menghadapi tantangan dan meraih peluang di tahun 2026 dan seterusnya.
Jika Anda ingin mempersiapkan diri lebih lanjut dan mendapatkan lebih banyak insight terkait skill yang dibutuhkan di masa depan, Veltica Masterclass adalah tempat yang tepat untuk Anda. Kami menawarkan berbagai kursus dan pelatihan yang dirancang untuk mengembangkan kemampuan Anda, mulai dari data literacy, AI awareness, hingga soft skills seperti kreativitas, kepemimpinan, dan kemampuan beradaptasi.
Di Veltica, kami percaya bahwa setiap profesional muda memiliki potensi untuk berkembang, dan kami siap membantu Anda mencapai tujuan karier Anda. Untuk meningkatkan skill Anda dengan cara yang relevan dan praktis, kunjungi website kami dan temukan berbagai program pelatihan yang dapat mengantarkan Anda ke level berikutnya.
Kunjungi Veltica Masterclass untuk memulai perjalanan Anda!
Dengan materi yang praktis dan dapat langsung diterapkan di dunia kerja, Veltica Masterclass memberikan wawasan yang Anda butuhkan untuk menjadi profesional yang siap menghadapi tantangan masa depan. Jangan menunggu, mulai belajar hari ini!